Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini mengungkapkan bahwa kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat mungkin dapat tercapai dalam waktu yang tidak lama lagi.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris
Pernyataan tersebut menandakan adanya peluang 'bersejarah' yang bisa memfasilitasi mufakat antara kedua negara.
Peluang Bersejarah untuk Mufakat
Dalam unggahan di media sosial pada Selasa (24/2), Araghchi menegaskan, "Kami memiliki kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mewujudkan kepentingan bersama."
Optimisme ini mencerminkan harapan Iran untuk merundingkan program nuklir yang telah menjadi sumber ketegangan bagi kedua negara selama bertahun-tahun.
Baca juga: Rumor iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Siapakah yang Akan Mengadaptasi eSIM?
Di sisi lain, Araghchi menekankan bahwa diplomasi perlu diutamakan dalam proses mencapai kesepakatan. "Kesepakatan ini hanya bisa dibuat jika diplomasi diprioritaskan," ujarnya, merujuk pada meningkatnya tekanan militer dari AS di kawasan.
Negosiasi di Tengah Ketegangan
Putaran ketiga negosiasi nuklir antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2). Dalam negosiasi tersebut, pihak AS menuntut agar Iran menghentikan seluruh program nuklirnya, yang dianggap bisa berpotensi menciptakan senjata pemusnah massal.
Meskipun demikian, Iran menegaskan bahwa pengayaan uranium yang dilakukan bertujuan untuk kepentingan sipil, bukan untuk tujuan militer. Ketegangan ini menciptakan tekanan agar kedua negara berusaha untuk mencapai mufakat demi menghindari konflik yang lebih besar.
Tekanan Militer AS dan Reaksi Iran
Negosiasi ini terjadi di tengah tindakan militer agresif yang dilancarkan oleh AS, termasuk pengerahan dua kelompok kapal induk di sekitar Iran oleh Presiden Donald Trump. Langkah ini diambil untuk menekan Teheran dan mempercepat kesepakatan.
Trump mengungkapkan, "Saya siap meluncurkan serangan terbatas ke Iran jika negosiasi tidak berhasil." Mendengar ancaman tersebut, Iran merespons dengan menyatakan kesiapan berperang dan siap menyerang pangkalan-pangkalan AS jika ada serangan terhadap mereka.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: