Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa virus Epstein-Barr (EBV) mungkin memicu penyakit lupus, fenomena kesehatan yang dikenal luas sebagai 'penyakit seribu wajah'.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Temuan ini membuka wawasan baru tentang mekanisme lupus, yang selama ini menjadi misteri, dan memberikan harapan untuk pengembangan terapi yang lebih efektif.
Virus Epstein-Barr dan Penyakit Autoimun
Virus Epstein-Barr merupakan salah satu virus paling umum di dunia, menginfeksi hingga 95% populasi manusia. Dikenal sebagai penyebab mononukleosis, virus ini mudah menular melalui air liur, contohnya melalui berciuman atau berbagi minuman.
Di sisi lain, lupus adalah penyakit peradangan kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri. Dengan berbagai gejala yang bisa menyerang organ seperti kulit, sendi, ginjal, hingga otak, lupus sering disebut sebagai 'penyakit seribu wajah'.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Sehari Sebelum Aksi
Temuan Penelitian Mengenai Virus EBV
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Translational Medicine ini dipimpin oleh Dr. William Robinson dari Stanford University. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang menderita lupus memiliki 25 kali lebih banyak sel B yang terinfeksi EBV dibandingkan dengan populasi sehat.
Dr. Robinson menyatakan, 'Ini adalah potongan mekanisme yang hilang. Kami pikir temuan ini berlaku untuk semua kasus lupus.' Riset ini mengungkap bahwa virus EBV dapat memprogram ulang sel B untuk memproduksi antibodi antinuklear (ANA), penanda utama lupus yang menyerang jaringan tubuh.
Implikasi dan Arah Penelitian Masa Depan
Meskipun hasil penelitian ini menjanjikan, para ahli memperingatkan bahwa bukti tambahan diperlukan untuk memastikan mekanisme ini berlaku di seluruh kasus lupus. Dr. Anca Askanase, direktur klinis Lupus Center Columbia University, mengindikasikan, 'Jika kita mulai memahami bagaimana virus ini bisa memicu penyakit autoimun, sudah waktunya memikirkan bagaimana mencegahnya.'
Dengan temuan ini, penelitian bisa membuka jalan bagi terapi lupus yang lebih spesifik. Sementara terapi yang ada sekarang lebih berfokus pada pengurangan peradangan, peneliti berharap dapat merancang terapi yang menargetkan sel B terinfeksi EBV serta memblokir jalur biologis yang menyebabkan autoimun.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: