Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan memimpin pertemuan Board of Peace di Washington pada 19 Februari 2026. Pertemuan ini menargetkan penggalangan dukungan internasional untuk rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan di Gaza.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Lebih dari 20 negara dijadwalkan berpartisipasi, dengan komitmen untuk mengumpulkan lebih dari 5 miliar dolar AS dalam rangka memulihkan wilayah yang terkena dampak konflik.
Komitmen Internasional untuk Gaza
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan komitmen negara-negara peserta untuk mengirim ribuan personel dalam misi stabilisasi internasional ke Gaza. Ini merupakan langkah penting dalam rencana besar pemerintahan Trump untuk membangun kembali wilayah tersebut.
“Presiden memiliki rencana dan visi yang sangat berani untuk membangun kembali Gaza, yang kini berjalan dengan baik melalui Board of Peace,” ujar Leavitt, menunjukkan harapan untuk pemulihan kawasan tersebut.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Pembentukan dan Dukungan Board of Peace
Board of Peace didirikan setelah Trump menandatangani dokumen pendiriannya di Davos, Swiss, pada 23 Januari. Badan ini mendapatkan dukungan dari resolusi Dewan Keamanan PBB sebagai bagian dari inisiatif perdamaian di Gaza.
Negara-negara dari Timur Tengah seperti Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Qatar, bersama negara berkembang seperti Indonesia, telah bergabung secara resmi. Namun, negara-negara Barat menunjukkan sikap hati-hati terhadap keterlibatan mereka.
Kritik dan Kontroversi
Keterlibatan Vatikan dalam inisiatif ini menjadi sorotan. Kardinal Pietro Parolin menyatakan bahwa penanganan krisis Gaza seharusnya berada di bawah koordinasi PBB, menimbulkan perdebatan tentang posisi dan legitimasi Board of Peace.
Awalnya, Board of Peace dirancang untuk mengawasi tata kelola sementara di Gaza setelah gencatan senjata bulan Oktober lalu. Namun, Trump membuka kemungkinan perluasan peran badan ini untuk menangani isu global, yang menciptakan kekhawatiran akan tumpang tindih dengan peran PBB.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: