Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 18:46 WIB

Otomatisasi Tugas Kantor oleh AI: Sebuah Prediksi yang Membuat Gelisah

Author

Otomatisasi Tugas Kantor oleh AI: Sebuah Prediksi yang Membuat Gelisah

Pekan ini, CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, membuat prediksi mengejutkan tentang otomatisasi tugas kantor dalam waktu dekat. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menyebutkan bahwa banyak pekerjaan akan diambil alih oleh kecerdasan buatan (AI) dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Baca juga: Polisi Tangkap ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta

Prediksi ini memunculkan kekhawatiran di antara banyak kalangan, terlebih di tengah ketidakpastian pasar tenaga kerja saat ini. Berbagai sektor, termasuk hukum dan akuntansi, akan merasakan dampak signifikan dari kemajuan teknologi ini.

Dampak AI pada Berbagai Profesi

Dalam wawancara tersebut, Suleyman menjelaskan bahwa otomatisasi AI akan meliputi banyak profesi, terutama pekerjaan yang bersifat administratif dan kerah putih. 'Jadi pekerjaan kerah putih di mana Anda duduk di depan komputer, baik sebagai pengacara, akuntan, manajer proyek, atau staf pemasaran, sebagian besar tugas tersebut akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12 hingga 18 bulan ke depan,' ungkapnya.

Pernyataan ini juga sejalan dengan terbitnya laporan dari berbagai sumber bahwa kemajuan teknologi dapat menggantikan banyak posisi di sektor jasa. Senjata utama dalam proses ini adalah rilis perangkat AI baru yang dapat mendukung berbagai pekerjaan karyawan.

Suleyman menunjukkan bahwa meskipun ada kekhawatiran di pasar tenaga kerja, otomatisasi sebenarnya sudah berlangsung di bidang rekayasa perangkat lunak. Ia mencatat, 'Banyak insinyur software melaporkan sekarang menggunakan pengkodean berbantuan AI untuk sebagian besar produksi kode mereka.'

Baca juga: Polisi Tangkap Direktur Eksekutif Lokataru Foundation karena Diduga Provokasi Anarkis

Perubahan Fungsi dan Tantangan Baru

Dengan banyaknya pemrogram yang beralih ke alat AI, fungsi pekerjaan mereka juga mengalami transformasi. 'Berarti peran mereka kini bergeser ke fungsi seperti debugging, meneliti dengan cermat, melakukan hal-hal strategis seperti merancang arsitektur dan memasukkan segala sesuatunya ke tahap produksi,' jelas Suleyman.

Meski penggunaan AI semakin meningkat, akan tetapi ada kekhawatiran terkait dengan efisiensi dan kualitas outputnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa AI sering kali tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diharapkan dengan baik.

Suleyman menekankan bahwa meskipun lebih dari separuh kode ditulis dengan bantuan AI, hal ini tidak selalu menjamin peningkatan produktivitas. Banyak karyawan masih meragukan hasil kerja AI dan merasa perlu mengecek ulang dengan teliti.

Kekhawatiran tentang Masa Depan Pekerjaan

Prediksi akan dampak otomatisasi tidak hanya datang dari Suleyman saja. CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bahwa AI bisa menghapus hingga setengah dari semua pekerjaan kerah putih tingkat pemula. Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, menekankan bahwa teknologi ini berpotensi menghancurkan kategori pekerjaan secara menyeluruh.

Pertumbuhan penerapan AI dalam industri mungkin berimplikasi pada peningkatan intensitas kerja, di mana pekerja dituntut untuk mengatasi lebih banyak beban kerja. Hal ini dapat memicu kelelahan mental yang berpotensi menurunkan kualitas kerja.

Oleh karena itu, perusahaan diharapkan untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari otomatisasi. Sementara efisiensi adalah keuntungan yang diharapkan dari AI, tantangan mengenai kualitas pekerjaan dan kesejahteraan karyawan juga perlu diperhatikan.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU