Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 09:58 WIB

Imam Masjid Al-Aqsa Ditangkap: Dampak pada Situasi di Gaza dan Yerusalem

Author

Imam Masjid Al-Aqsa Ditangkap: Dampak pada Situasi di Gaza dan Yerusalem

Pada Senin malam, 16 Februari 2026, polisi Israel menangkap Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Mohammad Ali Al-Abbasi, di halaman masjid yang penuh makna tersebut. Penangkapan ini datang bersamaan dengan pengetatan keamanan yang semakin meningkat di wilayah Yerusalem.

Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang

Kejadian ini memicu kekhawatiran akan situasi yang semakin buruk di Masjid Al-Aqsa, yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai tekanan. Situasi ini diperparah oleh pembatasan akses bagi jemaah dan serangan yang meningkat dari pemukim yang dilindungi oleh aparat keamanan.

Dampak Penangkapan Imam Al-Aqsa

Penangkapan Sheikh Mohammad Ali Al-Abbasi menjadi sorotan banyak pihak, terutama karena berkaitan erat dengan kondisi di Masjid Al-Aqsa. Menurut laporan dari kantor berita Palestina, WAFA, penangkapan ini merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas yang bertujuan untuk membatasi aktivitas di area masjid tersebut.

Pemerintah Israel juga tengah menerapkan pembatasan akses bagi jemaah yang ingin melaksanakan ibadah di masjid. Hal ini menciptakan suasana tegang yang membuat banyak pengunjung merasa terancam saat hendak beribadah.

Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi

Eskalasi Keamanan di Yerusalem

Wilayah Yerusalem, terutama Kota Tua, kini semakin memprihatinkan dengan meningkatnya tindakan kontrol dari otoritas Israel. Kebijakan penahanan terhadap tokoh agama dan aktivis lokal hanya menambah kerumitan situasi yang ada.

Di sekitar Masjid Al-Aqsa, pengawasan yang ketat membuat jemaah merasa selalu dalam ancaman ketika mereka ingin beribadah. Tekanan ini diperparah oleh serangan-serangan yang dilakukan oleh pemukim yang mendapatkan perlindungan dari polisi.

Penghalangan Tugas Komite Gaza

Di tengah situasi ini, Israel juga menghalangi aktivitas komite nasional Palestina yang bertujuan untuk mengelola Jalur Gaza. Wakil Menteri Luar Negeri Palestina, Omar Awadallah, mengungkapkan bahwa tindakan tersebut berlawanan dengan kepentingan rakyat Palestina.

Ia menegaskan bahwa keberadaan komite sangat penting untuk memastikan stabilitas dan menghentikan pelanggaran hak asasi manusia, yang saat ini terancam oleh larangan akses anggota komite ke Jalur Gaza.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU