Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami erupsi dramatis pada Sabtu pagi. Awan panas yang dikeluarkannya meluncur hingga enam kilometer dari puncak kawah.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Erupsi ini terjadi pada pukul 05.54 WIB, dengan kolom letusan mencapai ketinggian 2.000 meter di atas puncak, menyentuh ketinggian total 5.676 meter di atas permukaan laut.
Rincian Erupsi dan Pengamatan
Menurut Sigit Rian Alfian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi ini merupakan jenis awan panas guguran mengarah ke sektor tenggara. Jarak luncur awan panas mencapai enam kilometer, dengan kolom abu berwarna kelabu yang cukup tebal.
Dalam pengamatan, kolom abu teramati mengarah ke timur laut dengan intensitas yang beragam. Selain itu, erupsi ini terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 25 mm selama 238 detik.
Setelah erupsi pertama, Gunung Semeru kembali meletus pada pukul 07.25 WIB. Kolom letusan teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak, setara dengan ketinggian 5.176 mdpl dengan abu tebal mengarah utara dan timur laut.
Baca juga: Kunto Aji Menyuarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Harapan Masyarakat
Status Aktivitas dan Rekomendasi
Saat ini, status aktivitas Gunung Semeru dinyatakan pada Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat untuk menghindari potensi bahaya.
Masyarakat diimbau agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak erupsi. Namun, di luar radius tersebut, disarankan untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai.
Peringatan lebih lanjut juga menyebutkan potensi ancaman awan panas dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Potensi Bahaya Lainnya
Pihak berwenang melarang masyarakat beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah Gunung Semeru. Hal ini dikarenakan adanya potensi lontaran batu pijar yang berbahaya bagi keselamatan jiwa.
Khususnya, di sepanjang sungai dan lembah seperti Besuk Kobokan, masyarakat disarankan untuk selalu waspada terhadap perubahan situasi akibat aktivitas vulkanik tersebut. Potensi lahar dari sungai-sungai kecil, yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, juga perlu menjadi perhatian penduduk setempat.
Dengan tingginya aktivitas vulkanik ini, kelangsungan hidup dan keselamatan masyarakat sekitar menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: