Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, mengusulkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong reformasi di sektor keuangan, termasuk pasar saham dan perpajakan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Dalam acara peluncuran website Dewan Ekonomi Nasional, Luhut menyampaikan rencananya dan telah mendapatkan perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Reformasi Pasar Modal dengan AI
Dalam usahanya untuk meningkatkan efisiensi pasar modal, Luhut menyebutkan bahwa penggunaan teknologi AI dapat membantu merampingkan proses transaksi di bursa saham. Ia mengusulkan hal ini secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan perwakilan dari Morgan Stanley.
"Saya bilang sama dia [perwakilan Morgan Stanley], kita mau reform. Kita ada usul ke Presiden supaya capital market ini di-reform," ujarnya.
Usulan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada interaksi manusia dalam transaksi, sehingga meminimalkan kemungkinan penyimpangan yang dapat terjadi.
Digitalisasi yang dihasilkan oleh teknologi AI diharapkan dapat mempercepat segala proses di bursa saham, sehingga menciptakan sistem yang lebih transparan bagi para investor.
Penggunaan AI dalam Sistem Perpajakan
Selain di bursa saham, Luhut juga membahas manfaat AI dalam sistem perpajakan Indonesia. Kecerdasan buatan diharapkan mampu meningkatkan jumlah pembayar pajak serta tingkat kepatuhan mereka terhadap regulasi perpajakan.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa
"Jika itu [pakai teknologi AI] terjadi, jumlahnya akan lebih luas, penerimaan akan lebih luas," jelas Luhut.
Dengan penerapan teknologi ini, tarif pajak dapat diturunkan secara bertahap, yang tentunya memberikan keuntungan bagi masyarakat.
Reformasi ini ditargetkan untuk menciptakan transparansi yang lebih baik dalam sistem perpajakan dan mengurangi potensi pelanggaran.
Dampak dan Tantangan dalam Penerapan AI
Luhut mengungkapkan bahwa salah satu dampak positif dari penerapan AI adalah mengurangi interaksi manusia yang berpotensi menimbulkan manipulasi. Ia percaya bahwa dengan penggunaan teknologi ini, penyimpangan akan lebih sulit dilakukan.
"Digunakan AI, berbasis AI, supaya makin sulit untuk dipermainkan," katanya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan penerapan teknologi AI tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, tetapi juga negara lain, seperti India.
Kendati demikian, optimisme tetap ada, mengingat banyaknya potensi yang bisa digali dari integrasi teknologi canggih ini di sektor keuangan.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: