Sebagian besar armada kereta listrik Commuter Line (KRL) di Jabodetabek berusia tua, bahkan ada yang mencapai 41 tahun. Informasi ini disampaikan oleh Dirjen Perkeretaapian, Bobby Rasyidin, di hadapan Komisi XI DPR RI.
Baca juga: Kunto Aji Bicarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Masyarakat
Dari total 908 armada KRL, mayoritas merupakan kereta bekas impor dari Jepang, yang dapat berpengaruh terhadap keselamatan dan kinerja operasionalnya. Bobby mengatakan bahwa peremajaan armada menjadi suatu keharusan untuk meningkatkan layanan.
Kondisi Kereta KRL Saat Ini
Saat ini, kereta yang beroperasi di Jabodetabek memiliki range usia yang cukup mengkhawatirkan. Bobby Rasyidin mencatat bahwa sekitar 780 unit berasal dari JR East Jepang, sementara 128 unit lagi diimpor dari Tokyo Metro.
Usia tua kereta ini telah memasuki fase kritis, yang berdampak besar pada keselamatan operasional. Perlu adanya investasi untuk mengupgrade armada guna meningkatkan kinerja.
KAI dihadapkan pada tantangan dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, khususnya dengan jumlah kereta yang sudah uzur ini. Semakin tua usia kereta, semakin berpotensi terjadi masalah teknis yang dapat membahayakan penumpang.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Langkah Pemerintah dalam Pengadaan Kereta Baru
Bobby menjelaskan bahwa KAI sudah melakukan pengadaan kereta baru sebagai bagian dari peremajaan. Saat ini, 180 unit kereta baru telah didatangkan dari dua pabrikan.
Dari total tersebut, ada 132 unit produksi CRRC Sifang dan 48 unit dari PT INKA. 'Yang telah kita operasikan dari kereta baru itu adalah dari CRRC Sifang, yang ada sebanyak 132 unit atau 11 train set, dan INKA sebanyak 48 unit atau 4 train set,' jelas Bobby.
Meskipun demikian, jumlah kereta baru ini masih jauh dari cukup untuk menggantikan yang sudah tua. Diharapkan, pengadaan ini bisa meningkatkan kondisi pelayanan transportasi.
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan KRL
Dengan peningkatan permintaan masyarakat akan layanan transportasi yang lebih baik, KAI harus serius dalam melakukan peremajaan armada. Bobby menggarisbawahi pentingnya modernisasi untuk keberlanjutan layanan.
KAI tidak hanya perlu fokus pada penambahan kereta baru, tetapi juga harus memperkuat perawatan kereta yang sudah ada untuk menjamin keselamatan penumpang. 'Kita tidak hanya perlu menambah jumlah kereta baru, tetapi juga menjaga dan merawat yang sudah ada,' ujarnya.
Masa depan KRL di Jabodetabek bergantung pada investasi yang tepat dalam infrastruktur dan armada, serta dalam perbaikan ketepatan waktu dan kenyamanan perjalanan bagi penumpang.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: