Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan pada Senin, 9 Februari 2026. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan sentimen pasar global dan penurunan indeks dolar.
Baca juga: Mengapa Self Love Penting untuk Hubungan Sehat
Menurut data Bloomberg, rupiah menguat 12 poin (0,07%) menjadi Rp 16.864 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar tercatat turun sebesar 0,03% di level 97,6.
Penguatan Rupiah di Tengah Sentimen Global
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini terkait dengan sentimen risk-on global. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on global," ujarnya saat ditemui di Jakarta.
Sentimen risk-on dipicu oleh pergerakan positif pasar ekuitas global, dengan rebound di Wall Street yang terlihat dari bargain hunting pada saham sektor teknologi. Hal ini menjadi sinyal positif bagi posisi rupiah terhadap dolar AS.
Investor mulai merasakan optimisme atas pergerakan harga di pasar keuangan, yang makin memperkuat posisi rupiah.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Indikator Ekonomi Domestik Mempengaruhi Stabilitas
Walaupun terjadi penguatan pada nilai tukar, Lukman menyatakan bahwa situasi domestik tetap menunjukkan beberapa tantangan. "Investor menantikan data survei kepercayaan konsumen siang ini," tuturnya.
Data yang ditunggu adalah indeks kepercayaan konsumen Indonesia, yang diperkirakan akan meningkat sedikit dari 123,5 menjadi 123,9. Kenaikan ini diharapkan dapat mempengaruhi keputusan investasi dan pengeluaran dari konsumen.
Keterkaitan antara kondisi domestik dan pasar global sangat penting dalam memprediksi arah nilai tukar selanjutnya.
Prediksi Nilai Tukar dan Pergerakan Pasar
Analisis saat ini memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.900 per dolar AS pada hari ini. Prediksi ini didasarkan pada kondisi pasar dan faktor-faktor selera risiko investor.
Dengan berbagai faktor yang saling mempengaruhi, sentimen global dan data domestik diharapkan menjadi faktor utama pergerakan nilai tukar selanjutnya. Pelaku pasar akan terus memonitor perkembangan untuk memberikan informasi lebih lanjut.
Kondisi ini penting bagi investor untuk tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum membuat keputusan investasi.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: