Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampak dari fenomena panas ekstrem akibat perubahan iklim. Studi terbaru dari University of Oxford menyatakan bahwa bila suhu global melebihi ambang batas 1,5 derajat Celsius, akibatnya akan sangat signifikan.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru, Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2010, sekitar 23 persen populasi dunia mengalami kondisi panas ekstrem. Angka ini diprediksi akan melonjak menjadi 41 persen dalam beberapa dekade mendatang, dengan Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak.
Dampak Panas Ekstrem yang Mengancam
Studi ini menegaskan bahwa lonjakan suhu tidak hanya berbahaya bagi negara tropis, tetapi juga akan merambah ke wilayah iklim dingin. Misalnya, negara seperti Austria dan Kanada dapat mengalami peningkatan days of extreme heat yang dua kali lipat apabila suhu global mencapai dua derajat Celsius.
Dr. Jesus Lizana, Profesor Madya di bidang Ilmu Rekayasa dan penulis utama studi, mengingatkan bahwa perubahan dalam permintaan untuk pendinginan dan pemanasan akan mulai terlihat sebelum ambang batas 1,5 derajat Celsius. "Ini akan memerlukan langkah-langkah adaptasi signifikan yang harus diterapkan sejak dini," katanya.
Peningkatan suhu ini berpotensi meningkatkan kebutuhan penggunaan pendingin ruangan di banyak lokasi, di mana banyak rumah di Indonesia diprediksi akan memerlukan sistem pendingin dalam waktu lima tahun ke depan.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Risiko bagi Berbagai Sektor
Radhika Khosla, peneliti dari Smith School of Enterprise and the Environment, menekankan bahwa melampaui suhu 1,5 derajat Celsius akan berdampak besar pada sektor pendidikan, kesehatan, migrasi, dan pertanian. "Pembangunan berkelanjutan dengan target net zero tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren meningkatnya hari-hari panas ekstrem," tambahnya.
Dalam konteks Indonesia, kenaikan suhu ekstrem dapat berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan mengancam kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur yang berfokus pada mitigasi dan adaptasi menjadi semakin penting.
Dengan bertambahnya kebutuhan energi untuk sistem pendinginan, negara tropis seperti Indonesia mesti menghadapi tantangan dalam mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca yang lebih ambisius.
Data Terbuka untuk Perencanaan Berkelanjutan
Studi ini juga menyediakan dataset terbuka terkait kebutuhan pemanasan dan pendinginan global, dengan 30 peta dunia yang memiliki resolusi sekitar 60 kilometer. Dataset ini diharapkan menjadi dasar penting untuk perencanaan pembangunan berkelanjutan dan kebijakan iklim di berbagai negara.
Dengan adanya data tersebut, para pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk menghadapi tuntutan perubahan iklim dan mengembangkan infrastruktur yang tahan terhadap panas ekstrem.
Sebagai langkah awal, perlu adanya evaluasi kembali terhadap strategi adaptasi dan mitigasi yang ada saat ini untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Baca juga: Manchester United dan Manchester City Mengincar Kiper Baru Menjelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: