WhatsApp tengah menjadi sorotan setelah adanya gugatan hukum di Amerika Serikat yang mempertanyakan keamanan enkripsi platform tersebut.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Beberapa tokoh teknologi, termasuk CEO Telegram dan Elon Musk, memberi kritik tajam terhadap klaim keamanan WhatsApp.
Kritik Tajam Terhadap WhatsApp
CEO Telegram, Pavel Durov, menjadi salah satu yang pertama menyoroti kelemahan WhatsApp. Dalam unggahan di platform X, Durov mengatakan, 'Seseorang harus benar-benar tidak berpikir jernih untuk percaya bahwa WhatsApp aman di tahun 2026.'
Ia menambahkan bahwa analisis terhadap penerapan enkripsi WhatsApp menunjukkan banyak celah yang dapat diserang, dan menegaskan bahwa klaim keamanan yang disebutkan WhatsApp tidak memiliki dasar yang kuat.
Elon Musk juga tidak ketinggalan memberikan kritik. Dia menulis, 'WhatsApp tidak aman. Bahkan Signal pun masih patut dipertanyakan. Gunakan X Chat.'
Kritik ini datang seiring promosi layanan pesan miliknya, X Chat, sehingga memperparah suasana ketidakpercayaan terhadap WhatsApp.
Bantahan Pihak WhatsApp
Menanggapi komentar pedas tersebut, Will Cathcart, pimpinan WhatsApp, segera memberikan bantahan. Ia menegaskan bahwa klaim Musk tidak akurat, dan menekankan bahwa WhatsApp tidak bisa membaca pesan pengguna.
Baca juga: Kunto Aji Menyuarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Harapan Masyarakat
Cathcart menjelaskan, 'Ini sepenuhnya tidak benar. WhatsApp tidak bisa membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan di ponsel pengguna dan kami tidak memiliki akses ke sana.'
Ia juga mengkritik gugatan yang muncul, menyebutnya tidak substansial dan ditujukan untuk menarik perhatian media, di mana firma tersebut dikenal karena membela spyware NSO.
Hal ini menunjukkan bahwa WhatsApp tetap berpegang pada sistem enkripsi end-to-end yang diyakini dapat melindungi privasi pengguna.
Peringatan Keamanan dari Google
Di tengah kontroversi ini, Google menerbitkan peringatan untuk pengguna WhatsApp mengenai potensi serangan yang mungkin disebabkan oleh foto berbahaya. Peringatan ini tidak berkaitan langsung dengan gugatan yang ada.
Google menunjukkan potensi kerentanan, di mana meskipun pesan atau lampiran tidak dibuka, ponsel pengguna bisa disusupi oleh foto berbahaya yang diterima.
Sebagai langkah mitigasi, mereka menyarankan pengguna untuk menonaktifkan fitur penyimpanan media otomatis agar tidak terjebak dalam serangan ini.
Pihak WhatsApp menekankan kembali bahwa mereka memiliki sistem enkripsi yang robust, dan hanya pengirim serta penerima yang dapat membaca isi pesan.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Sehari Sebelum Aksi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: