Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan klarifikasi terkait kritik yang muncul mengenai penanganan banjir di ibu kota. Kritikan ini muncul dari berbagai pihak yang menganggap tindakan yang diambil selama ini tidak efektif.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Tanggapan ini disampaikan setelah Walhi Jakarta menekankan bahwa penyebab banjir lebih kompleks, dengan masalah tata ruang sebagai faktor utama daripada sekedar curah hujan.
Kritik Terhadap Penanganan Banjir
Kritik terhadap penanganan banjir Jakarta menjadi sorotan ketika hujan ekstrem baru-baru ini menyebabkan ratusan rumah tangga serta ruas jalan terendam air. Lembaga Walhi Jakarta menyatakan bahwa akar masalah banjir melibatkan tata ruang yang tidak terencana dengan baik.
Pramono Anung menjelaskan bahwa keputusan untuk memanfaatkan modifikasi cuaca merupakan langkah sementara. "Yang kami tangani dengan modifikasi cuaca ini kan memang bersifat jangka pendek karena cuacanya ini kan given, bukan kita yang membuat," ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa banjir adalah suatu masalah alam yang harus dihadapi oleh warga Jakarta. Dalam konteks ini, pendekatan jangka panjang sangat diperlukan, yang tidak hanya mengandalkan intervensi teknis.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Rencana Normalisasi Sungai
Dalam merespons berbagai kritik tersebut, Pramono melanjutkan dengan membahas rencana normalisasi beberapa sungai di Jakarta, seperti Kali Ciliwung, Krukut, dan Kali Cakung Lama. Menurutnya, proyek normalisasi ini adalah langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
"Termasuk untuk normalisasi Ciliwung, normalisasi Krukut, normalisasi Kali Cakung Lama itu belum pernah dilakukan dan ini memerlukan biaya yang cukup tinggi," tambahnya.
Namun, ia menyadari bahwa rencana ini mungkin tidak akan disetujui oleh masyarakat setempat. Proses normalisasi sungai ini dapat menemui tantangan, terutama karena harus memindahkan warga dari lokasi yang terdampak.
Tantangan dan Respons Masyarakat
Pramono Anung juga mengingatkan bahwa setiap tindakan dalam penanganan banjir bisa berpotensi memicu penolakan masyarakat, khususnya di saat perlu adanya relokasi. "Saya akan lakukan dan ini pasti nggak populer karena apa? Harus memindahkan masyarakat, harus menyiapkan rumah susun dan sebagainya dan pasti nanti di lapangan mau tidak mau suka tidak suka pasti ada singgungannya," ungkapnya.
Pernyataan ini menegaskan betapa rumitnya masalah penanganan banjir di Jakarta. Keberhasilan implementasi kebijakan yang direncanakan juga sangat bergantung pada dukungan dan partisipasi masyarakat.
Pramono mengajak semua pihak untuk memahami bahwa tindakan penanganan banjir adalah langkah penting yang harus diambil demi kesejahteraan komunitas di Jakarta.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: