Tahun 2025 menjadi tahun yang suram bagi dunia kerja di Indonesia, dengan 88.519 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar dalam angka tersebut, terpengaruh oleh ketegangan geopolitik yang mempengaruhi perdagangan internasional.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengungkapkan bahwa faktor eksternal ini mengakibatkan lonjakan PHK, terutama pada sektor yang bergantung pada ekspor dan impor. Situasi ini menggugah perhatian banyak pihak, terutama terkait dampaknya terhadap perekonomian dan masyarakat.
Dampak Geopolitik terhadap Aktivitas Perdagangan
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri, menyatakan bahwa ketegangan geopolitik memiliki dampak signifikan pada aktivitas perdagangan. "Pertama kan ada tekanan juga dari ekspor-impor, itu pasti. Kondisi dunia di 2025 awal terutama sampai semester pertama kan masih ada dinamika cukup tinggi, geopolitik, ada perang dan sebagainya, pasti itu pengaruh ke ekspor," ujar Indah.
Perubahan ini berdampak langsung pada sektor-sektor yang bergantung pada aktivitas impor dan ekspor. Terutama sektor manufaktur, yang mencatatkan angka PHK tertinggi di negara ini.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Memperkuat Timnas
Statistik PHK di Indonesia
Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi, mencapai 18.815 orang atau sekitar 21,26% dari total angka nasional. Hal ini menunjukkan ketidakmerataan dampak PHK di berbagai daerah, lebih terkonsentrasi di wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor manufaktur.
Data ini menekankan perlunya perhatian pemerintah dalam menghadapi konsekuensi sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh gelombang PHK ini. Langkah-langkah strategis perlu diambil agar dampak negatifnya terhadap masyarakat dapat diminimalisir.
Inisiatif Kementerian Ketenagakerjaan
Untuk merespon situasi ini, Kemnaker sudah menyiapkan berbagai inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran dan mendukung pekerja terdampak. Indah menjelaskan, "Ada magang nasional bagi para penganggur baru yang terdidik ya. Tadi disampaikan (Menaker Yassierli) sudah mencapai target 100 ribu peserta."
Kemnaker juga melakukan upaya peningkatan jumlah peserta magang menjadi 150 ribu dan mengintensifkan program pelatihan yang melibatkan serikat pekerja. Ini bertujuan untuk memberikan dukungan yang lebih baik kepada mereka yang kehilangan pekerjaan.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: