Tim SAR gabungan terus berupaya maksimal dalam mencari dan mengevakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1). Proses pencarian ini sangat penting dilakukan dalam waktu tiga hari yang dianggap sebagai golden time untuk penyelamatan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan bahwa dua korban telah ditemukan, namun pencarian tetap dilanjutkan meski cuaca ekstrem menjadi tantangan utama. "Kondisi cuaca yang buruk menjadi tantangan utama dalam operasi saat ini, namun kami tetap optimis seluruh korban dapat ditemukan."
Proses Pencarian Korban dan Tantangan yang Dihadapi
Tim SAR gabungan telah dikerahkan ke lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Ballocci, Kabupaten Pangkep. Penemuan lokasi yang tepat diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi, terutama sebelum waktu kritis berakhir.
Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan pentingnya pencarian dilakukan dalam waktu singkat. "Kami memaksimalkan golden time pencarian, dengan harapan besar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat," ujarnya.
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Tantangan yang dihadapi tim SAR dalam proses pencarian sangat beragam, mulai dari medan yang terjal hingga kabut tebal yang menyelimuti lokasi. Hal ini membuat proses evakuasi menjadi lebih rumit dan memerlukan strategi yang lebih efisien.
Identifikasi dan Evakuasi Korban
Dua korban awal telah ditemukan, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan, yang proses identifikasinya akan dilakukan oleh instansi berwenang. Ini merupakan langkah yang penting untuk memastikan keakuratan data korban.
Menurut Syafii, lokasi penemuan korban rata-rata berada antara 200 hingga 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keselamatan baik tim SAR maupun korban yang telah ditemukan.
Strategi Evakuasi dan Upaya Berkelanjutan
Tim SAR mengutamakan evakuasi melalui jalur udara, namun cuaca buruk menjadi penghalang utama. "Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan," jelas Syafii.
Karena itu, operasi pencarian dan evakuasi dialihkan ke unsur darat yang secara bertahap menjangkau lokasi-lokasi yang diduga terdapat korban. Syafii menambahkan, "Ini adalah misi kemanusiaan, dengan semangat kebersamaan yang tinggi di antara semua personel yang terlibat."
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: