Industri kecerdasan buatan (AI) sedang menghadapi masalah serius terkait pengeluaran yang terus meningkat, termasuk oleh OpenAI, yang dikenal sebagai pencipta ChatGPT.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia
Sebastian Mallaby, peneliti senior di Council on Foreign Relations, memperingatkan bahwa OpenAI mungkin berisiko kebangkrutan dalam waktu 18 bulan ke depan.
Pembakaran Dana di Industri AI
Industri AI saat ini menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mengembangkan model serta infrastruktur yang mendukung teknologi canggih ini.
Meskipun banyak investor yang optimis akan revolusi teknologi yang sedang berlangsung, profitabilitas masih menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh banyak perusahaan, termasuk OpenAI.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Tantangan dalam Mencetak Laba
OpenAI menghadapi kesulitan dalam menarik minat pengguna terhadap langganan ChatGPT, yang membuat mereka harus mencari sumber pendapatan alternatif di tengah pengeluaran yang terus meningkat.
Sebastian Mallaby menyatakan dalam kolom New York Times bahwa OpenAI terjebak dalam situasi sulit dan berisiko habis uang dalam waktu dekat, menekankan bahwa 'Perusahaan masih harus mencari modal sangat besar.'
Persaingan di Pasar Kecerdasan Buatan
Dalam perjuangannya, OpenAI harus bersaing dengan perusahaan raksasa lain seperti Google, Microsoft, dan Meta, yang memiliki sumber daya besar dari bisnis utama mereka.
Mallaby menyebutkan bahwa meskipun OpenAI terdepan dalam inovasi, tantangan finansial dapat menjadi penghalang bagi kemajuan mereka dalam industri ini.
Ia menyimpulkan bahwa jika OpenAI gagal, itu tidak akan mencerminkan gagalnya teknologi AI secara keseluruhan, melainkan hanya bagi para pengembang yang terlalu terjebak dalam hype daun.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: