Di zaman digital saat ini, semakin banyak individu merasa bahwa kebahagiaan mereka bergantung pada interaksi di sosial media. Likes dan komentar dari teman online sering kali dianggap sebagai ukuran status sosial.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Pertanyaan muncul mengenai sejauh mana kebahagiaan dapat diukur berdasarkan umpan balik virtual. Sementara banyak orang beranggapan bahwa dukungan sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri, terdapat sisi lain yang perlu dicermati.
Sosial Media dan Kesehatan Mental
Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan sosial media dengan kesehatan mental. Menurut sebuah studi dari American Psychological Association, risiko depresi dan kecemasan meningkat pada pengguna yang terlampau sering memeriksa akun mereka.
Hal ini banyak dipicu oleh perbandingan sosial yang terus-menerus terjadi. Ketika melihat kehidupan 'sempurna' orang lain, individu cenderung merasa kurang berharga.
Istilah 'FOMO' atau Fear of Missing Out juga muncul dalam konteks ini, menggambarkan rasa cemas individu akan kehilangan momen berharga yang terlihat lebih baik di sosial media.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Dari Jempol ke Perasaan
Validasi sosial di dunia maya terlihat dari jempol, komentar positif, hingga repost. Banyak orang merasa lebih bahagia saat mendapatkan respons positif, meskipun biasanya hanya bersifat sementara.
Namun, ketidakpastian yang muncul dari interaksi sosial media dapat memengaruhi kesehatan mental. Apabila sebuah postingan tidak mendapatkan perhatian yang diharapkan, individu mungkin merasa tidak nyaman.
Saran dari psikolog menyarankan untuk menetapkan batasan dalam penggunaan sosial media untuk menghindari ketergantungan pada validasi dari orang lain.
Membangun Kebahagiaan yang Sehat
Penting untuk diingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terukur dari likes atau komentar. Menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman secara langsung dapat menyediakan kepuasan yang lebih dalam.
Melakukan hobi atau berkontribusi kepada orang lain juga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada validasi sosial media. Dengan begitu, individu dapat menyadari bahwa diri mereka berharga tanpa pengakuan dari dunia maya.
Kesadaran akan perspektif ini berpotensi membawa individu pada tingkat kebahagiaan yang lebih otentik dan berkelanjutan.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: