Real Madrid resmi memecat Xabi Alonso sebagai pelatih setelah kurang dari satu tahun menjabat. Pemecatan ini dipicu oleh ketidakcocokan dalam kebijakan transfer dan sejumlah konflik internal di tim.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia
Kekalahan di Final Piala Super Spanyol dari Barcelona menjadi puncak dari serangkaian permasalahan yang membuat manajemen mengambil keputusan sulit ini.
Alasan Pemecatan Alonso
Xabi Alonso dipecat oleh Real Madrid setelah hanya bertahan kurang dari satu tahun di klub, meskipun ia telah menerima kontrak dua tahun saat bergabung pada musim panas lalu. Masalah pertama yang muncul adalah kekalahan dari Barcelona dalam Final Piala Super Spanyol yang menjadi titik akhir kerja sama ini.
Meskipun berhasil membawa tim ke final, penampilan yang ditempuh selama kompetisi cenderung mengecewakan. Presiden klub, Florentino Perez, mengkritik performa tim terutama setelah kemenangan atas Atletico Madrid, menunjukkan bahwa harapan dari manajemen terhadap kinerja Alonso lebih tinggi dari yang ditampilkan.
Kebijakan Transfer yang Kontroversial
Salah satu alasan kuat pemecatan Alonso adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan transfer yang diambil klub. Alonso menginginkan kehadiran gelandang bertahan, Martin Zubimendi, yang memiliki klausul sebesar 60 juta euro dari Real Sociedad.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Sayangnya, permintaan tersebut ditolak oleh Perez, yang malah memilih Franco Mastantuono dari River Plate. Keputusan ini menjadi kontroversial, apalagi Mastantuono tidak dapat memberikan dampak signifikan di lapangan, hanya mencatatkan satu gol dan satu assist dalam 17 pertandingan.
Kondisi ini menunjukkan ketidaksesuaian antara kebijakan transfer yang diambil klub dan kebutuhan tim di lapangan, menambah ketegangan dalam hubungan Alonso dengan manajemen.
Konflik Lain di dalam Tim
Di samping isu transfer, Alonso juga berjuang untuk memperpanjang kontrak Luka Modric, yang bagi Alonso sangat krusial sebagai pemain kunci dan panutan bagi generasi muda. Namun, Perez menolak untuk memenuhi permohonan tersebut.
Meskipun Madrid memiliki pemain lain seperti Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, keduanya dianggap bukan tipe gelandang bertahan yang dibutuhkan Alonso. Kesenjangan visi antara manajer dan manajemen ini semakin memperburuk situasi yang ada.
Situasi internal yang semakin rumit membuat keputusan pemecatan menjadi langkah yang diambil manajemen untuk meredakan isu-isu yang berkembang di dalam tim.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: