Selasa, 13 JANUARI 2026 • 11:40 WIB

Dampak Stres pada Gangguan Pencernaan di Kalangan Generasi Muda

Author

Dampak Stres pada Gangguan Pencernaan di Kalangan Generasi Muda

Stres kini diakui sebagai penyebab utama meningkatnya gangguan pencernaan pada Generasi Z dan kelompok usia muda lainnya.

Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Masalah seperti perut kembung, sembelit, dan diare semakin umum, meski sebelumnya lebih sering dialami oleh orang yang berusia lebih tua.

Peningkatan Gangguan Pencernaan di Kalangan Remaja

Survei kesehatan terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak anak muda yang mengalami gangguan pencernaan. Keluhan seperti kembung, nyeri lambung, hingga masalah buang air besar menjadi hal yang umum di kalangan mereka.

Dr. Chandra Sekhar Reddy, dokter spesialis gastroenterologi dan hepatologi, mengungkapkan bahwa stres adalah pemicu utama dari masalah ini. Dia mencatat banyak pasien muda yang mengeluh mengenai gangguan pencernaan meskipun tidak ada indikasi penyakit organik yang dapat ditemukan pada pemeriksaan mereka.

Hubungan Stres dan Fungsi Pencernaan

Menurut Dr. Reddy, hubungan antara stres dan masalah pencernaan berkaitan dengan gut-brain axis, jalur komunikasi antara sistem saraf dan pencernaan. Stres berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh melepaskan hormon seperti kortisol, yang berdampak pada fungsi usus.

Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat

"Pada sebagian orang, stres membuat proses pencernaan melambat sehingga menyebabkan sembelit. Pada individu lainnya, aktivitas usus meningkat dan dapat memicu diare," jelasnya.

Di sisi lain, stres juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus, yang memiliki dampak negatif pada fungsi pencernaan serta sistem imun tubuh.

Pencegahan Gangguan Pencernaan akibat Stres

Untuk mencegah gangguan pencernaan terkait stres, generasi muda disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat. Dr. Reddy menekankan bahwa jika dibiarkan, gejala ini dapat berkembang menjadi kondisi lebih serius seperti sindrom irritable bowel (IBS) atau penyakit asam lambung.

Ia merekomendasikan praktik mindfulness, seperti latihan pernapasan serta membatasi penggunaan gadget di malam hari. Pola makan yang teratur dan konsumsi serat yang cukup juga dapat membantu menjaga kesehatan usus.

"Karena hubungan antara usus dan otak bersifat dua arah, gangguan pada usus juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, termasuk memicu kecemasan," tambahnya.

Baca juga: Tips Membuat Kamar Kecil Menjadi Nyaman dan Menyenangkan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU