Iran kini tengah menghadapi gelombang protes besar yang berupaya menantang kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Aksi demonstrasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap rezim yang berkuasa.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Sejak akhir Desember lalu, berbagai kota, termasuk Teheran, menjadi panggung aksi demo yang melibatkan banyak orang. Banyak yang melaporkan adanya korban jiwa di tengah ketegangan yang meningkat.
Demonstrasi Besar dan Respons Khamenei
Sejak dimulainya aksi demonstrasi di Iran, ketidakpuasan masyarakat semakin memuncak terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter. Beberapa bangunan pemerintah dibakar oleh demonstran yang ingin menyuarakan perlawanan mereka.
Dalam pidato pertamanya setelah protes meluas, Khamenei menuduh mereka sebagai 'perusuh' dan mengklaim bahwa mereka bekerja untuk 'menyenangkan' Presiden Donald Trump. Pidato tersebut disiarkan langsung, menunjukkan kebijakan pemerintah yang keras.
Khamenei juga menekankan bahwa 'Republik Islam datang ke tampuk kekuasaan dengan darah ratusan ribu orang terhormat, dan tidak akan mundur menghadapi para penyabot.' Pernyataan ini mencerminkan ketidakstabilan politik yang tengah berlangsung di Iran.
Data dari jaringan hak asasi manusia Iran, HRANA, mencatat setidaknya 62 orang tewas, termasuk 14 anggota keamanan, menambah dramatisasi situasi yang menegangkan ini.
Kecaman Internasional dan Permintaan Intervensi
Respons terhadap penanganan demonstrasi ini juga datang dari pemimpin dunia, termasuk Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mengeluarkan pernyataan bersama untuk mengutuk 'pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa.'
Baca juga: Kasus Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana
Donald Trump juga memberikan tanggapan melalui media sosial, mengatakan, 'Antusiasme untuk menggulingkan rezim itu luar biasa,' sekaligus memperingatkan bahwa AS akan bertindak keras jika ada kekerasan lebih lanjut.
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, mengajak Trump untuk melakukan tindakan aktif dalam mendukung rakyat Iran. Ia menekankan pentingnya dukungan internasional untuk melawan kekuatan represif pemerintah Iran.
Meskipun tidak menyebutkan rincian spesifik mengenai bentuk intervensi yang dimaksud, Pahlavi percaya bahwa dukungan tersebut sangat diperlukan.
Situasi di Lapangan dan Dampaknya
Rekaman video menunjukkan banyak kerumunan demonstran di berbagai kota, mengeluarkan seruan 'mati bagi diktator.' Di sisi lain, televisi pemerintah menyiarkan aksi pro-pemerintah sebagai jawaban terhadap demonstrasi tersebut.
Sebagai langkah penindasan, pihak berwenang dilaporkan melakukan pemadaman internet, yang membuat komunikasi antara demonstran semakin sulit. Ini berpotensi menambah kekhawatiran akan meningkatnya kekerasan.
Laporan dari Amnesty International dan Human Rights Watch mempertanyakan perlakuan aparat keamanan yang menggunakan senjata tajam dan gas air mata terhadap para demonstran damai. Michael Page dari HRW menyebut tindakan ini sebagai kebijakan negara yang mengakar.
Reza Pahlavi, dalam komentarnya, menegaskan pentingnya demonstrasi lanjutan untuk melemahkan kekuatan represif pemerintah. 'Massa besar memaksa kekuatan represif untuk mundur,' ujarnya.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: