Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 19:31 WIB

Trump Umumkan Pembatalan Serangan Kedua terhadap Venezuela

Author

Trump Umumkan Pembatalan Serangan Kedua terhadap Venezuela

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa rencana serangan kedua terhadap Venezuela dibatalkan. Hal ini terjadi setelah adanya kolaborasi yang positif antara AS dan rezim di Caracas.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam

Dalam pernyataannya, Trump menyebutkan bahwa pembebasan tahanan politik Venezuela merupakan 'isyarat yang sangat penting dan cerdas' dalam proses ini.

Pembatalan dan Kerja Sama Infrastruktur

Dalam keterangan yang diunggah di Truth Social, Trump menyampaikan, 'AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali infrastruktur minyak dan gas mereka.'

Pernyataan ini muncul setelah operasi militer AS yang ditujukan untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang berujung pada kematian 24 petugas keamanan Venezuela. Konsekuensi dari operasi tersebut memicu ketegangan antara AS dan negara-negara tetangga di Amerika Tengah dan Selatan.

Trump juga menegaskan bahwa meski serangan ditunda, kapal-kapal AS akan tetap berada di lokasi untuk tujuan keselamatan dan keamanan. Dia menekankan pentingnya kolaborasi dalam sektor energi.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris

Dukungan untuk Pembebasan Tahanan

Jorge Rodríguez, ketua Majelis Nasional Venezuela, menginfokan bahwa negara tersebut telah membebaskan banyak warga negara asing dari penjara. Trump menganggap langkah ini sebagai tanda bahwa Venezuela 'mencari perdamaian.'

AS terus mendesak pembebasan tahanan politik di Venezuela dan Trump menunjukkan keinginannya untuk berinvestasi di negara tersebut. Dia memproyeksikan investasi minimal mencapai US$100 miliar dari perusahaan minyak besar.

Langkah ini mencerminkan minat AS untuk lebih terlibat dalam sektor energi Venezuela, yang berpotensi memengaruhi struktur pemerintahan.

Penolakan Terhadap Aksi Militer

Dinas intelijen menyebutkan bahwa pengaruh Trump untuk meluncurkan serangan semakin terbatas setelah Senat memberikan suara untuk memajukan resolusi kekuatan perang. Dalam pemungutan suara tersebut, lima anggota Partai Republik bergabung dengan Demokrat, menandakan adanya penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer tanpa persetujuan Kongres.

John Bolton, mantan Penasihat Keamanan Nasional, menilai bahwa Trump 'melegitimasi kembali rezim Maduro' dan menekankan, 'Dia tidak memahami kepercayaan yang diberikan rakyat Venezuela kepada Machado.'

Trump juga dijadwalkan bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, untuk mencari kemungkinan dukungan bagi oposisi di negara tersebut.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Sehari Sebelum Aksi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU