Kamis, 08 JANUARI 2026 • 18:01 WIB

Banjir dan Longsor di Sumatera: 25 Desa Hilang dan Strategi Pemulihan

Author

Banjir dan Longsor di Sumatera: 25 Desa Hilang dan Strategi Pemulihan

Bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh telah meninggalkan dampak signifikan, termasuk hilangnya sekitar 25 desa.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas

Kini, pemerintah fokus pada pemulihan ekonomi dan identifikasi titik-titik recovery di wilayah yang terdampak.

Kondisi Terkini di Aceh dan Sumatera Utara

Di Aceh, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mencatat terdapat tujuh titik fokus recovery, termasuk Aceh Tamiang yang operasionalnya terhalang oleh kantor yang berlumpur.

Wilayah lain yang perlu diatasi antara lain Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, di mana akses darat dan aktivitas ekonomi sudah mulai pulih.

Sementara itu, di Sumatera Utara, dari 18 wilayah terdampak, 13 di antaranya telah kembali normal, walaupun beberapa daerah masih membutuhkan perhatian lebih.

Wilayah-wilayah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Mandailing Natal masih dalam kondisi yang patut diperhatikan.

Analisis Wilayah yang Terdampak di Sumatera Barat

Tito menginformasikan bahwa Sumatera Barat mengalami dampak di 16 kabupaten/kota, namun 13 di antaranya telah mendekati kondisi normal.

Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang

Tiga wilayah, yakni Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar, masih memerlukan perhatian khusus agar pemulihan bisa dilakukan secara merata.

Pemerintah berkomitmen untuk memberikan perhatian lebih kepada daerah-daerah tersebut, mempertegas pentingnya penanganan yang merata.

Tito menekankan, 'Kita akan berikan perhatian yang khusus, tanpa menafikan yang lain,' menunjukkan upaya pemerintah untuk menangani situasi dengan serius.

Identifikasi Desa yang Hilang

Tito menyampaikan bahwa total 1.580 desa terkena dampak dari bencana, di mana 25 desa dinyatakan hilang setelah dilakukan verifikasi.

Awalnya, dia melaporkan 22 desa yang hilang, namun melalui koordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga lain, angka tersebut direvisi.

Dia menambahkan, 'Aceh menyampaikan juga ada gampong yang lain yang hilang. Tadinya 13, menjadi 17,' menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi.

Proses verifikasi akan dilanjutkan untuk memastikan status desa-desa tersebut, baik yang memang hilang karena bencana atau terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU