Operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela pada tanggal 3 Januari 2023 mengakibatkan sedikitnya 100 orang tewas. Serangan ini menargetkan Presiden Nicolas Maduro dan menewaskan banyak anggota militer serta warga sipil.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menegaskan bahwa serangan tersebut menciptakan dampak besar, menyebabkan kerugian yang signifikan bagi negara dan masyarakat.
Detail Operasi Militer AS dan Korban Jiwa
Dalam serangan tersebut, yang berlangsung di Caracas, otoritas Venezuela melaporkan bahwa 24 personel militernya tewas. Serangan ini melibatkan pengeboman serta penyerbuan oleh pasukan khusus AS.
Diosdado Cabello, dalam pernyataannya di televisi pemerintah, menyebutkan, "Sejauh ini -- dan maksud saya sejauh ini -- ada 100 orang tewas dan jumlah yang sama terluka. Serangan terhadap negara kita sangat mengerikan."
Di antara para korban yang tewas, terdapat lima Laksamana, namun tidak ada informasi lebih lanjut tentang rasio korban militer dan sipil.
Banjirnya korban akibat operasi ini menunjukkan betapa besarnya kekacauan yang ditimbulkan oleh intervensi militer asing di dalam negeri Venezuela.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Penangkapan dan Kondisi Presiden Maduro
Menurut laporan, dalam penangkapan yang dilakukan oleh pasukan AS, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mengalami luka, namun kini dalam proses pemulihan. Mereka terlihat mampu berjalan sendiri saat menghadiri sidang perdana di Manhattan pada tanggal 5 Januari.
Keduanya mengaku tidak bersalah atas dakwaan konspirasi narkoterorisme dalam sidang tersebut. Operasi ini dipandang oleh kedua pihak sebagai langkah agresif oleh pemerintah AS yang mengancam kedaulatan Venezuela.
Keberadaan Maduro dan Flores dalam unit penangkapan menambah ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat, menciptakan suasana yang semakin tegang.
Reaksi Pejabat AS dan Dampak Internasional
Laporan dari pejabat Amerika Serikat, yang dipublikasikan di The Washington Post, menyatakan bahwa antara 75 hingga 80 orang tewas dalam operasi itu, yang meliputi tentara Venezuela dan personel keamanan Kuba. Hal ini menunjukkan jangkauan dampak internasional dari tindakan tersebut.
Pemerintah Kuba mengkonfirmasi bahwa 32 anggota angkatan bersenjatanya juga tewas, menegaskan adanya keterlibatan internasional dalam usaha mempertahankan Maduro dari serangan tersebut.
Selama masa pemerintahan Nicolas Maduro yang telah berlangsung selama 12 tahun, ia seringkali bergantung pada dukungan militer dari Kuba, menambah kompleksitas situasi keamanan regional dan meningkatkan rasa ketidakpastian di kawasan.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: