FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah fenomena psikologis yang semakin umum di kalangan masyarakat modern, terutama di era digital saat ini. Rasa cemas yang muncul akibat merasa tertinggal dari pengalaman orang lain telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Dengan media sosial yang selalu menyajikan informasi secara real-time, banyak individu yang merasakan tekanan untuk selalu terlibat. Hal ini, pada gilirannya, dapat mengganggu kedamaian jiwa dan kebahagiaan saat menjalani kehidupan sehari-hari.
Apa itu FOMO?
FOMO adalah ketidaknyamanan yang muncul ketika seseorang merasa takut melewatkan sesuatu yang dianggap penting. Dengan kemajuan teknologi dan kehadiran media sosial, fenomena ini semakin kuat karena kita dapat melihat aktivitas orang lain secara langsung.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti Dr. Dan Herman pada tahun 2004. Sejarah FOMO menunjukkan bahwa ketidaknyamanan ini berkaitan erat dengan kecemasan yang dialami banyak orang dalam berkontribusi dan bersosialisasi di masyarakat.
Dampak Psikologis FOMO
Salah satu dampak utama dari FOMO adalah peningkatan tingkat kecemasan dan stres. Ketika individu merasa harus tetap terhubung dan tahu tentang segala hal yang terjadi di sekitar mereka, tekanan ini bisa berujung pada rasa tidak puas.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa orang yang mengalami FOMO cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Mereka juga sering merasa terasing meskipun berada di lingkungan yang kaya kesempatan.
Fenomena ini juga dapat mendorong perilaku tidak sehat, seperti kecanduan media sosial, yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan emosional dan kesehatan mental.
Mengatasi FOMO
Untuk menghadapi FOMO, ada beberapa langkah yang dapat diambil guna meningkatkan kenyamanan hidup. Pertama, membatasi waktu penggunaan media sosial dapat membantu individu lebih fokus pada pengalaman hidup mereka sendiri.
Kedua, penting untuk menghargai setiap momen yang dimiliki alih-alih membandingkan diri dengan orang lain. Kesadaran akan nilai pengalaman pribadi dapat meredakan kecemasan yang tidak perlu.
Terakhir, menjalani gaya hidup seimbang dengan melakukan aktivitas offline, seperti olahraga atau bersosialisasi secara langsung, juga dapat membuat individu merasa lebih terhubung dan puas dengan hidup.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: