Jumat, 26 DESEMBER 2025 • 22:10 WIB

Mengapa Tren Makanan Viral Mudah Menghilang Daya Tariknya

Author

Mengapa Tren Makanan Viral Mudah Menghilang Daya Tariknya

Fenomena makanan viral telah menyentuh banyak aspek kehidupan kuliner di Indonesia, namun banyak orang merasa cepat bosan setelah mencobanya. Hal ini menjadi menarik untuk dibahas karena dampaknya terhadap dinamika kuliner dan kebiasaan makan masyarakat.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez

Berbagai jenis makanan seperti banana bread dan dalgona coffee mungkin terlihat menarik saat pertama kali muncul, tetapi jenuh dalam waktu singkat sering kali menjadi keluhan. Mari kita eksplorasi lebih dalam fenomena ini dan penyebabnya.

Kejenuhan Rasa

Salah satu penyebab utama makanan viral cepat terasa bosan adalah kejenuhan rasa yang dihasilkan oleh rasa yang standar dan umum. Ketika sebuah makanan momen viral, biasanya rasa yang ditawarkan cukup mudah ditemukan di lokasi lain.

Sebagian besar makanan viral cenderung dirancang untuk menarik perhatian visual, dengan cetakan unik dan warna cerah, bukan menawarkan keunikan rasa yang berkelanjutan. Akibatnya, konsumen tidak mendapatkan pengalaman baru setelah mencoba sekali.

Cobalah makanan yang sama berkali-kali, dan seseorang akan merasa tidak ada tantangan baru, yang akhirnya mengurangi minat untuk mencobanya lagi. Rasa yang sudah familiar juga cenderung lebih cepat dilupakan dibandingkan rasa yang baru atau unik.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa

Faktor Sosial dan Ekspektasi

Media sosial memainkan peran besar dalam perkembangan makanan viral, dan sering kali menciptakan ekspektasi tinggi dari para penggemar. Namun, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan bisa terjadi.

Seringkali, makanan yang terlihat menggoda dalam foto bisa jadi tidak seindah saat dicicipi secara langsung. Penurunan kualitas antara harapan dan realitas dapat membuat konsumen merasa frustrasi.

Faktor FOMO (Fear of Missing Out) juga berkontribusi, di mana orang merasa harus mencoba makanan tersebut secepatnya. Setelah tren mereda, minat juga menurun, berkontribusi pada rasa kejenuhan yang dialami.

Ketersediaan dan Jangkauan

Ketersediaan makanan viral sangat mempengaruhi pengalaman konsumen. Dengan begitu banyak tempat menjual makanan yang sama, konsumen menjadi terbombardir oleh pilihan.

Makanan yang awalnya terlihat langka bisa menjadi mudah diakses, sehingga kehilangan daya tarik. Karena variasi makanan yang beredar, rasa eksklusivitas hilang.

Terkadang, konsumen mencari sesuatu yang lebih unik daripada apa yang telah umum. Makanan yang terlalu banyak dipasarkan akhirnya kehilangan nilai dan menjadi monoton.

Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU