Mengatur keuangan pribadi sering kali dianggap sebagai hal yang rumit dan menakutkan. Banyak orang lebih memilih untuk menyerahkan tanggung jawab ini kepada penasihat keuangan.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Fear of missing out (FOMO) dan ketidakpastian mengenai investasi menjadi dua alasan utama yang membuat individu ragu untuk mengambil alih pengelolaan keuangan mereka sendiri.
Kurangnya Pengetahuan Dasar
Banyak orang merasa bingung ketika mendengar istilah keuangan seperti investasi, bunga, atau rencana pensiun. Ketidakpahaman ini sering kali berasal dari kurangnya edukasi keuangan sejak dini.
Sebagian besar sekolah di Indonesia belum efektif mengajarkan manajemen keuangan kepada siswa. Akibatnya, banyak orang dewasa yang tetap tidak paham dasar-dasar keuangan.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Ketakutan Akan Kesalahan
Satu kesalahan dalam pengaturan keuangan bisa berakibat fatal, dan inilah yang membuat banyak orang ragu. Mereka takut membuat keputusan yang salah yang dapat merugikan masa depan mereka.
Risiko dan ketidakpastian dalam berinvestasi juga menjadi momok bagi banyak orang. Terlebih lagi, berita tentang kebangkrutan atau kerugian besar sering kali menjadi pengingat akan risiko tersebut.
Pengaruh Lingkungan Sosial
Dalam banyak kasus, tekanan dari teman atau keluarga juga berperan penting dalam keputusan finansial seseorang. Misalnya, banyak yang memilih untuk mengikuti tren konsumsi di sekitar mereka meski tahu itu bukan pilihan yang bijak.
Media sosial juga berkontribusi pada persepsi bahwa orang lain lebih sukses dalam hal keuangan. Hal ini membuat seseorang merasa kurang percaya diri untuk mengambil alih kendali keuangannya sendiri.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: