Sabtu, 13 DESEMBER 2025 • 00:04 WIB

Banjir Bandang Tapanuli Selatan dan Nasib Orangutan Tapanuli

Author

Banjir Bandang Tapanuli Selatan dan Nasib Orangutan Tapanuli

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, telah menimbulkan dampak serius pada lingkungan dan spesies orangutan Tapanuli yang terancam punah.

Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan

Pada 3 Desember 2025, tim SAR menemukan bangkai orangutan betina yang terbawa arus banjir, menunjukkan dampak mengkhawatirkan dari bencana ini terhadap ekosistem lokal.

Temuan Bangkai Orangutan

Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) yang terdiri dari relawan menemukan bangkai orangutan betina di Desa Pulo Pakkat saat mereka melakukan pencarian korban banjir.

Salah satu relawan, Decky Chandrawan, menjelaskan bahwa bangkai tersebut terlihat dalam kondisi mengenaskan, menunjukkan jelas bahwa itu adalah orangutan betina.

Decky mencatat bahwa orangutan tersebut kemungkinan terbawa arus banjir dari hulu sungai Garoga, habitat alami spesies tersebut.

Kerusakan habitat ini mencerminkan dampak serius dari aktivitas manusia terhadap lingkungan di daerah tersebut.

Kerusakan Ekosistem dan Ancaman bagi Orangutan Tapanuli

Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa bencana ini merupakan konsekuensi dari kerusakan lingkungan yang parah di wilayah Tapanuli.

Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor Setelah Pencabutan Instruksi WFH

Menurutnya, deforestasi dan konversi lahan menjadi perkebunan telah membuat habitat orangutan Tapanuli semakin terfragmentasi.

Sejak 2017, orangutan Tapanuli telah disandang status terancam punah, dengan hilangnya tutupan hutan sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup mereka.

Panut menyoroti kegiatan industri ekstraktif sebagai salah satu penyebab utama kerusakan di ekosistem lokal.

Upaya Perlindungan dan Tanggapan Pemerintah

Susilo, Kabid Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Padangsidimpuan, mengonfirmasi bahwa bangkai orangutan telah dievakuasi dan dimakamkan setelah ditemukan.

Ia menegaskan pentingnya pemantauan pascabencana untuk satwa liar yang tersisa di daerah tersebut.

Susilo juga menekankan perlunya menjaga kawasan hutan dan mengawasi praktik ekstraktif yang merusak ekosistem.

Penataan ulang kawasan lindung diperlukan untuk menghindari kejadian serupa di masa depan.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU