Sabtu, 13 DESEMBER 2025 • 00:01 WIB

Krisis Nyeri Dada: Pertolongan Pertama dan Evaluasi yang Tepat

Author

Krisis Nyeri Dada: Pertolongan Pertama dan Evaluasi yang Tepat

Nyeri dada sering menjadi sinyal awal masalah kesehatan, terutama yang berkaitan dengan jantung. Pentingnya melakukan tindakan cepat dan tepat dapat menghindarkan komplikasi yang lebih serius.

Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Dokter spesialis kardiovaskular, dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, menganjurkan agar aspirin dapat dijadikan langkah awal ketika mengalami nyeri dada mendadak.

Pentingnya Penanganan Awal

Nyeri dada memiliki beragam penyebab yang perlu segera ditangani. Kesigapan dalam merespons gejala ini harus menjadi prioritas, karena jika dibiarkan selama lebih dari 15 menit, intensitas nyeri dapat semakin meningkat.

Dr. Birry menjelaskan dalam seminar di Rumah Sakit Medistra, 'Jika mendadak terjadi nyeri dada, pertolongan pertama bisa dengan meminum aspirin.' Ini adalah langkah yang sangat penting selagi menunggu perawatan medis lebih lanjut.

Namun, jika aspirin tidak tersedia, langkah terbaik adalah langsung menuju Unit Gawat Darurat (UGD). 'Biopsi EKG harus siap dibaca agar dokter dapat menginterpretasikan langkah-langkah pengobatan selanjutnya,' tambahnya.

Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China

Evaluasi Gejala Nyeri Dada

Dokter perlu melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah nyeri dada yang dialami pasien disebabkan oleh masalah jantung atau faktor lainnya. Dr. Birry menggambarkan pentingnya membedakan antara 'cardiac chest pain' dan 'non-cardiac chest pain'.

Kondisi non-jantung seperti asam lambung atau bahkan kontraksi otot bisa menjadi penyebab nyeri tersebut. Pembebanan berat pada tubuh pun dapat menghasilkan rasa ketidaknyamanan di area dada.

Untuk mendapatkan diagnosis yang akurat, pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit adalah langkah yang sangat penting. Mengetahui penyebab pasti dari nyeri dada dapat membantu dalam menentukan tingkat risiko yang dialami oleh pasien.

Perubahan Demografi Serangan Jantung

Fenomena serangan jantung yang sering dianggap sebagai masalah kesehatan orang tua kini mulai bergeser ke demografi yang lebih muda. Dr. Birry menegaskan bahwa 'Hampir 70 persen usia rata-rata pasien serangan jantung adalah orang relatif muda, yaitu usia 30-35 tahun.'

Data dari Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 800.000 orang meninggal setiap tahun karena penyakit kardiovaskular. Menurut WHO, penyakit ini adalah penyebab kematian utama di Indonesia, termasuk stroke dan hipertensi.

Penting untuk diingat bahwa 90 persen penyebab penyakit kardiovaskular terkait dengan gaya hidup, sementara hanya 10 persen yang berhubungan dengan faktor genetik. Oleh karena itu, perubahan menuju gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung.

Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU