Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatera kini membawa ancaman baru bagi kesehatan masyarakat. Kerusakan infrastruktur disertai dengan risiko penyebaran penyakit semakin meningkatkan kecemasan terhadap kondisi kesehatan di wilayah terdampak.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat
Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University menjelaskan bahwa ada empat jenis penyakit utama yang berpotensi mewabah setelah banjir. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain dengan kondisi serupa.
Ancaman Leptospirosis Pasca Banjir
Leptospirosis adalah salah satu penyakit yang paling umum muncul setelah terjadinya banjir. Dicky menegaskan, "Leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah" akibat paparan manusia terhadap air kencing tikus dan hewan reservoir lainnya.
Interaksi masyarakat dengan lingkungan yang tercemar semakin memperburuk situasi. Penularan bakteri Leptospira harus menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat pascabanjir.
Penyakit Fekal-Oral dan Dampaknya
Penyakit berbasis fekal-oral, terutama diare, juga meningkat setelah banjir. Sana sanitasi yang buruk dan sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir memicu berbagai infeksi.
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Dicky mengungkapkan, "Orang BAB atau kencing dimana saja" menjadi pemicu penyebaran penyakit ini. Fasilitas mencuci tangan yang terbatas di tempat pengungsian meningkatkan risiko penularan penyakit fekal-oral secara drastis.
Demam Tifoid dan Penyebarannya
Demam tifoid (tipes) menjadi penyakit lain yang kerap meningkat pasca banjir. Dicky menjelaskan, "Makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir", memudahkan penyebaran bakteri penyebab demam tifoid.
Penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap konsumsi makanan dan minuman setelah bencana untuk menghindari meningkatnya kasus infeksi.
Risiko Penyakit Vektor Pasca Banjir
Genangan air yang tersisa setelah banjir menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk, yang dapat meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue dan malaria. Dicky mencatat, "Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama."
Kesadaran akan penyakit terkait vektor ini sangat penting, terutama ketika komunitas berupaya pulih dari dampak bencana.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: