Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan kondisi kritis lahan pemakaman di Jakarta yang semakin terbatas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Mengapa Self Love Penting untuk Hubungan Sehat
Data terbaru menunjukkan bahwa dari 80 tempat pemakaman umum (TPU) yang ada, 69 di antaranya sudah penuh, memaksa pemerintah untuk mencari solusi alternatif.
Kondisi Lahan Pemakaman di Jakarta
Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta mencatat bahwa keterbatasan lahan menjadi masalah serius di ibu kota. Saat ini, 69 dari 80 TPU di Jakarta sudah tidak dapat digunakan untuk pemakaman baru.
Pramono Anung menegaskan, 'Persoalan petak makam di Jakarta saat ini sudah menjadi persoalan yang sangat-sangat serius.' Ini menunjukkan betapa mendesaknya situasi yang harus dihadapi.
Sisa 11 TPU yang ada hanya dapat bertahan untuk tidak lebih dari tiga tahun ke depan, menambah kekhawatiran akan ketersediaan lahan dan upaya pemakaman di masa depan.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Langkah Relokasi dan Ekspansi Lahan
Dalam upaya menambah jumlah pemakaman, pemerintah Jakarta merencanakan perluasan lahan TPU Menteng Pulo. Meskipun akan ada relokasi masyarakat, langkah ini dianggap penting untuk mengatasi krisis lahan.
Pramono menginformasikan bahwa perluasan lahan ini akan memberikan tambahan 1.300 petak makam baru, yang 'sangat berarti bagi ketersediaan lahan untuk pemakaman di Jakarta,' ujarnya dengan tegas.
Selain itu, relokasi juga bertujuan untuk mengembalikan ruang resapan yang sangat penting bagi lingkungan di Jakarta.
Proses Relokasi Warga
Sebelum pernyataan tersebut, Pramono dan jajarannya telah menyerahkan kunci kepada 137 kepala keluarga (KK) yang tinggal di TPU Menteng Pulo selama puluhan tahun. Proses ini menjadi langkah nyata untuk menangani persoalan pemakaman.
Inisiatif relokasi melibatkan pemindahan warga tidak hanya ke Rusun Jagakarsa, di mana 88 KK dipindahkan, tetapi juga ke lokasi lain seperti Rusun Rawa Bebek dan Rusun Pantai Indah Kapuk (PIK).
Sebagian warga lainnya memilih untuk kembali ke kampung halaman mereka, menunjukkan adanya variasi dalam tanggapan masyarakat terhadap program relokasi pemerintah.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: