Selasa, 09 DESEMBER 2025 • 13:08 WIB

Europol Tutup Layanan ChipMixer, Sita 1.909 Bitcoin Senilai Rp 3 Triliun

Author

Europol Tutup Layanan ChipMixer, Sita 1.909 Bitcoin Senilai Rp 3 Triliun

Europol, badan kepolisian Uni Eropa, berhasil menutup layanan pencucian uang kripto ChipMixer yang beroperasi di dark web. Penggerebekan ini berujung pada penyitaan 1.909 keping Bitcoin yang setara dengan sekitar Rp 3 triliun.

Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025

Operasi ini melibatkan pihak berwenang dari Jerman dan Amerika Serikat, menandakan langkah signifikan dalam memerangi pencucian uang di dunia digital yang terus berkembang.

Latar Belakang ChipMixer

ChipMixer telah beroperasi sejak tahun 2016 sebagai layanan pencampur Bitcoin yang 'membersihkan' dana hasil kejahatan melalui proses mencampur Bitcoin pengguna dengan Bitcoin lain. Dengan cara ini, jejak digital dapat diputus, sehingga menyulitkan penegak hukum untuk melacak aliran uang.

Layanan ini menjadi populer di kalangan pelaku kriminal, mengaburkan transaksi yang terkait dengan aktivitas ilegal seperti perdagangan narkoba dan penipuan kartu kredit. Europol mengidentifikasi ChipMixer sebagai 'bank' favorit untuk banyak kelompok hacker, termasuk geng ransomware yang terkenal.

Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang

Proses Penggerebekan dan Penyitaan

Penggerebekan terkoordinasi antara pihak berwenang Jerman dan AS pada akhir November mengungkap jaringan ChipMixer. Dalam operasi tersebut, tiga server, domain cryptomixer.io, dan lebih dari 12 terabyte data berhasil disita.

Saat ini, situs ChipMixer menampilkan pemberitahuan penyitaan, menggantikan antarmuka sebelumnya. Hal ini menegaskan komitmen untuk melawan kejahatan digital yang dapat merugikan masyarakat.

Dampak dan Tanggapan terhadap Penutupan ChipMixer

Penutupan ChipMixer bukanlah peristiwa baru dalam upaya menghentikan layanan pertukaran uang kripto ilegal. Sebelumnya, layanan lain seperti Bitcoin Fog dan Blender.io juga telah ditutup, menunjukkan meningkatnya tekanan hukum di sektor ini.

Di sisi lain, pengguna kripto kini mencari alternatif untuk menjaga anonimitas mereka, dengan Monero dan Zcash sebagai pilihan, meski diterima dengan tantangan di bursa besar. Regulasi yang semakin ketat, seperti GENIUS Act di AS, menandakan bahwa pemerintah semakin berupaya mengawasi aktivitas di sektor kripto.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU