Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa chat singkat, yang sering kita lakukan sehari-hari, dapat menyebabkan salah paham yang signifikan.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Hal ini disebabkan oleh kekurangan konteks dan nada dalam pesan teks yang bisa mengubah makna sebenarnya.
Apa Kata Studi Ini?
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas X menunjukkan bahwa 70% narsis yang diteliti mengalami kesalahpahaman saat berkomunikasi via chat.
Peneliti menemukan bahwa nada suara dan ekspresi wajah yang tak terlihat dalam pesan tertulis menyebabkan penerima tidak bisa menangkap maksud pengirim dengan jelas.
Sejumlah responden di survei ini mengaku sering merasa bingung atas pesan pendek yang hanya terdiri dari beberapa kata.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Dampak dari Salah Paham
Salah paham dalam komunikasi digital bisa berdampak luas, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional.
Misalnya, sebuah pesan yang dimaksudkan sebagai candaan dapat ditafsirkan sebagai kritik serius, mengakibatkan ketegangan antara pengirim dan penerima.
Sebagian besar konflik yang hadir dalam hubungan bersumber dari ketidakpahaman semacam ini, yang sering diabaikan orang-orang.
Solusi untuk Mengurangi Salah Paham
Peneliti merekomendasikan beberapa cara untuk mengurangi risiko salah paham, seperti menggunakan emoji atau menambahkan konteks dalam setiap pesan.
Mereka juga menyarankan untuk tidak ragu melakukan klarifikasi jika sebuah pesan terasa ambigu.
Dengan cara ini, diharapkan komunikasi bisa lebih efektif dan mengurangi potensi konflik.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: