Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja menyetujui rencana Amerika Serikat untuk mengirim pasukan stabilisasi ke Gaza. Keputusan ini dinilai krusial dalam menjaga gencatan senjata dan membuka jalan bagi pembentukan negara Palestina di masa depan.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Pemungutan suara pada 18 November 2025 menghasilkan dukungan 13 suara, dengan Rusia dan China memilih untuk abstain. Duta Besar AS untuk PBB menyebut langkah ini sebagai 'bersejarah dan konstruktif' untuk keamanan regional.
Proses Pemungutan Suara dan Keputusan PBB
Pemungutan suara yang berlangsung baru-baru ini menunjukkan dukungan kuat dari berbagai negara terhadap pengiriman pasukan internasional ke Gaza. Duta Besar AS, Mike Waltz, menyatakan bahwa langkah ini adalah awal stabilitas baru di Gaza dan keamanan bagi Israel.
Resolusi yang disetujui mencakup rencana gencatan senjata 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump. Rencana tersebut menyebutkan penempatan pasukan stabilisasi hingga akhir 2027, dengan tugas utama seperti pengamanan wilayah dan pengawasan perbatasan.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Memperkuat Timnas
Reaksi dan Tantangan Dalam Proses Resolusi
Sebelum pengesahan, sejumlah negara Arab memberikan kritik terhadap rancangan awal resolusi, yang dianggap kurang kuat. Setelah melalui revisi signifikan, teks resolusi menegaskan bahwa akan ada 'jalur kredibel' menuju penentuan nasib sendiri bagi Palestina setelah reformasi dari Otoritas Palestina.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan penolakannya terhadap opsi negara Palestina, yang dianggapnya ancaman bagi keamanan Israel. Meskipun demikian, dukungan dari negara-negara Arab, termasuk Indonesia, Qatar, dan Arab Saudi, sangat berperan dalam pengesahan resolusi tersebut.
Rincian Tugas dan Kewenangan Pasukan Stabilitas
Pasukan stabilisasi internasional yang akan dikerahkan memiliki kewenangan luas termasuk melaksanakan langkah-langkah militer 'yang diperlukan' sesuai hukum internasional. Mereka akan berkoordinasi dengan polisi Palestina dan bekerja sama dengan Mesir serta Israel guna mengamankan perbatasan dan aliran bantuan kemanusiaan.
Sebagai bagian dari proses stabilisasi ini, pasukan Israel diharapkan dapat menarik diri secara bertahap dari Gaza, kesepakatan yang harus disetujui oleh pasukan stabilisasi dan negara-negara penjamin gencatan senjata. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih aman di wilayah tersebut.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: