Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa hujan berkepanjangan menjadi salah satu penyebab longsor di Cilacap, Jawa Tengah. Rangkaian faktor cuaca ini meningkatkan risiko terjadinya bencana alam di wilayah tersebut.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa curah hujan tinggi pada 10-11 November mencapai hampir 100 mm per hari, menjadikan lereng di Kecamatan Majenang rawan longsor.
Rincian Curah Hujan dan Kondisi Tanah
BMKG mencatat hujan tinggi pada 10-11 November dengan curah hujan 98,4 mm per hari dan 68 mm per hari. Curah hujan ini menyebabkan tanah menjadi jenuh air, yang berpotensi memicu pergerakan tanah.
Guswanto menyoroti bahwa cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang mendukung hujan lebat. Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan pusaran angin di sekitar wilayah tersebut turut memperkuat pembentukan awan hujan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris
Ancaman Hujan Lebat dan Langkah Penanganan
Andri Ramdhani, Direktur Meteorologi Publik BMKG, mengingatkan bahwa kelembapan udara yang sangat tinggi berpotensi mengakibatkan hujan lebat kembali. Hujan sedang hingga lebat diperkirakan akan terjadi antara 19-22 November.
Dalam menghadapi bencana lebih lanjut, BMKG berencana mengadakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tri Handoko Seto dari BMKG menyatakan bahwa skema OMC dirancang untuk melindungi daerah yang rawan longsor.
Peringatan untuk Masyarakat dan Koordinasi dari BMKG
BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Bagus Pramujo, memastikan BMKG akan terus memberikan informasi cuaca harian.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi Bibit Siklon Tropis 97S dan 98S yang bisa menyebabkan cuaca ekstrem dalam waktu dekat. Guswanto menegaskan bahwa meskipun peluang untuk berkembang menjadi siklon masih rendah, dampaknya tetap signifikan bagi beberapa wilayah.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: