Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 14:15 WIB

Dampak Kecerdasan Buatan Terhadap Krisis Air Bersih: Apa yang Perlu Diketahui?

Author

Dampak Kecerdasan Buatan Terhadap Krisis Air Bersih: Apa yang Perlu Diketahui?

Pertemuan antara kecerdasan buatan (AI) dan krisis air bersih kini menarik perhatian banyak pihak. Penggunaan chatbot seperti ChatGPT diklaim berdampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih di Bumi.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Walaupun beberapa klaim menyatakan bahwa AI menyedot sumber daya air, data ilmiah menunjukkan hubungan yang lebih kompleks. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana penggunaan teknologi ini berpengaruh terhadap keadaan lingkungan.

Konsumsi Air dan Energi oleh Pusat Data AI

S setiap interaksi dengan chatbot AI memerlukan kapasitas besar dari pusat data untuk memproses permintaan. Proses ini tidak hanya menghasilkan panas tetapi juga bergantung pada sistem pendingin yang memakai air bersih.

Studi dari University of California, Riverside menunjukkan pelatihan model GPT-3 bisa memerlukan hingga 700 ribu liter air. Angka ini bisa bervariasi tergantung lokasi dan metode pendinginan yang digunakan.

Selain itu, interaksi harian dengan AI bisa menyedot air sebanyak 300 hingga 500 ml per pengguna untuk 20 hingga 50 permintaan, yang menunjukkan dampak signifikan teknologi ini terhadap penggunaan air.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR

Monitoring Penggunaan Air oleh Perusahaan Teknologi

Laporan dari Analytics Vidhya, yang ditulis oleh K.C. Sabreena Basheer, mengungkapkan bahwa konsumsi air oleh teknologi AI mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan. Misalnya, konsumsi air Microsoft meningkat 34 persen dari 2021 ke 2022.

Google juga menunjukkan lonjakan konsumsi air sebesar 20 persen dalam rentang waktu yang sama. Peningkatan ini berpotensi menyebabkan krisis air global jika tidak dikelola dengan baik.

Basheer menekankan bahwa interaksi global yang tinggi dengan AI secara signifikan mempengaruhi jumlah air yang digunakan. Mengingat potensi risiko ini, beberapa perusahaan telah mengambil langkah mitigasi seperti mengadopsi energi terbarukan.

Pemanasan Global dan Pengelolaan Lingkungan

International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa konsumsi listrik untuk pusat data global, yang juga digunakan untuk AI, bisa mencapai 900 TWh pada tahun 2026. Jika sumber enegrinya berasal dari bahan bakar fosil, jejak karbon dari teknologi ini akan meningkat pesat.

Namun, penting untuk dicatat bahwa klaim AI menipiskan lapisan ozon tidak memiliki basis ilmiah yang kuat. Penipisan ozon lebih berkaitan dengan senyawa kimia tertentu, bukan aktivitas AI.

Industri teknologi sendiri berkomitmen untuk mengurangi jejak ekologis dari pengoperasian kecerdasan buatan dengan fokus pada penggunaan energi bersih dan inovasi dalam metode pendinginan.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU