Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya selama dinas militer dengan pelatih asal Korea di Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Cerita ini disampaikan dalam peresmian pabrik petrokimia Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Ia mengungkapkan pentingnya etos kerja keras dan disiplin yang diajarkan oleh pelatih tersebut, yang tetap relevan dalam hidup dan kepemimpinannya saat ini.
Kedisiplinan Pelatih Korea dalam Latihan
Prabowo menegaskan bahwa pelatih Korea dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak mengenal kata menyerah. 'Saya punya pengalaman baik, banyak pengalaman baik dengan pihak Korea waktu saya di tentara,' ujarnya sambil mengenang saat-saat berlatih.
Setiap kali Prabowo meminta libur untuk merayakan hari besar, pelatihnya selalu menolak permintaan tersebut. 'Dia bilang, tidak bisa Jenderal, harus latihan,' ucap Prabowo mengenang penolakan yang menegaskan disiplin selama latihan.
Pelatih juga menunjukkan sikap inklusif dengan meminta timnya pergi ke gereja setelah ibadah misa. 'Hebat juga orang ini,' serunya, menangkap momen ketika disiplin dan penghargaan terhadap budaya diimbangi.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Pelajaran dari Kedisiplinan dan Negosiasi
Prabowo juga menjelaskan bahwa pelatih memberi izin untuk menjalankan shalat Idul Fitri sebelum kembali latihan. 'Dia sudah tanya kepada ahli-ahli agama. Yang wajib itu Idul Fitri, sembahyang shalat berjamaah di masjid jam 07.00 pagi,' jelasnya, menekankan pentingnya religiusitas.
Dalam pandangannya, kedisiplinan bukan hanya soal latihan fisik, tetapi juga tentang negosiasi dan kerjasama. 'Jadi orang Korea ini bangsa yang tangguh. Jadi kalau negosiasi sama orang Korea tidak gampang,' ungkapnya, menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam interaksi.
Refleksi Prabowo Terhadap Pengalaman Masa Lalu
Prabowo meyakini bahwa ajaran dari pelatih tersebut tetap relevan hingga saat ini. Disiplin yang diajarkan menjadi bagian integral dari filosofi kepemimpinannya.
'Ini pengalaman saya dengan orang-orang Korea,' ujarnya, mengisyaratkan penghargaan yang mendalam terhadap etos kerja yang diterapkan selama dinas.
Pengalaman ini tidak hanya mempengaruhi karir militernya, tetapi juga membangun fondasi dalam kepemimpinan politiknya. Hal ini menunjukkan pentingnya sikap belajar berkelanjutan dari pengalaman masa lalu.
Baca juga: Tips Membuat Kamar Kecil Menjadi Nyaman dan Menyenangkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: