FOMO, atau fear of missing out, merupakan perasaan umum di era digital yang memicu stres dan kecemasan bagi banyak orang. Rasa tegang ini muncul akibat keinginan untuk tidak ketinggalan informasi dan pengalaman menarik dari orang lain.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang pengaruh FOMO terhadap kesehatan mental dan berbagai cara untuk mengatasinya, termasuk pentingnya menyadari dampaknya dan beralih ke aktivitas yang lebih produktif.
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah istilah yang mengacu pada kecemasan akibat merasa ketinggalan momen menarik yang dialami orang lain. Sering kali, perasaan ini dipicu oleh interaksi di media sosial, di mana kita melihat postingan teman-teman yang menggugah rasa ingin tahu.
Berdasarkan penelitian, FOMO dapat memicu kecemasan dan stres. Keinginan untuk selalu terhubung dengan apa yang terjadi di sekeliling dapat mengganggu fokus dan kualitas hidup sehari-hari.
Hal ini juga berpengaruh terhadap keputusan hidup, seperti menghadiri acara yang sebenarnya tidak diinginkan, hanya agar tidak merasa ketinggalan.
Baca juga: Google Respon Terkait Masalah Keamanan Gmail dan Aktivitas Phishing
Dampak Psikologis dari FOMO
Salah satu konsekuensi dari FOMO adalah munculnya perasaan depresi. Seseorang yang terus-menerus merasa ketinggalan cenderung kurang puas dengan kehidupannya.
Seiring berjalannya waktu, dampak negatif dari FOMO dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius. Stres yang berkepanjangan dapat berimbas pada kecemasan dan kualitas tidur yang buruk.
Studi menunjukkan bahwa mereka yang mengalami FOMO biasanya menggunakan media sosial secara berlebihan. Hal ini menciptakan siklus di mana individu merasa semakin terasing meskipun terhubung secara digital.
Mencegah Dampak Negatif FOMO
Langkah pertama untuk mengatasi FOMO adalah meningkatkan kesadaran terhadap perasaan tersebut dan mengenali tanda-tanda kecemasan. Teknik relaksasi seperti meditasi dan mindfulness dapat membantu mengurangi kecemasan yang muncul.
Mengurangi frekuensi penggunaan media sosial juga merupakan langkah awal yang baik, mengingat hal ini dapat menurunkan stres. Menghabiskan waktu dengan aktivitas nyata seperti berolahraga atau berkumpul bersama keluarga juga sangat dianjurkan.
Penting juga untuk belajar menerima bahwa tidak setiap momen harus diabadikan. Menikmati hidup dengan cara pribadi dapat menjadi kunci untuk mengatasi FOMO.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Insiden Perampokan Rumah Uya Kuya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: