Situasi kemanusiaan di Sudan, khususnya di wilayah Darfur, semakin memburuk setelah penguasaan el-Fasher oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Ratusan ribu warga sipil kini terjebak dalam krisis yang terus memburuk akibat perang saudara yang berkepanjangan.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Lembaga bantuan internasional mendesak Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan RSF untuk memperlancar akses bantuan, tetapi upaya mediasi yang dilakukan belum menghasilkan kemajuan yang signifikan. Diperkirakan puluhan ribu warga sipil terperangkap di el-Fasher, sementara banyak yang terdampak belum terdaftar setelah melarikan diri.
Kondisi Memprihatinkan di el-Fasher
Sepekan setelah penguasaan el-Fasher oleh RSF, laporan menunjukkan puluhan ribu warga sipil terjebak dengan situasi yang kian mendesak. Banyak yang menghadapi ancaman serius dalam keadaan terlantar di kota tersebut.
Informasi dari lembaga bantuan mengindikasikan bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang berhasil melarikan diri ke Tawila, yang berjarak sekitar 50 km. Caroline Bouvard, Direktur Negara Sudan untuk Solidarites International, mengatakan, "Jumlah yang sangat kecil mengingat banyaknya orang yang terjebak di el-Fasher."
Bouvard juga menyoroti adanya "pemadaman informasi total" dari el-Fasher sejak RSF mengambil alih, yang membuat upaya bantuan semakin sulit dilakukan.
Baca juga: Manchester United dan Manchester City Mengincar Kiper Baru Menjelang Penutupan Bursa Transfer
Pengungsi dan Kesulitan Akses Bantuan
Warga yang berhasil melarikan diri mengungkapkan pengalaman traumatis, termasuk menyaksikan kekerasan ekstrem seperti eksekusi massal. Kejadian ini memperburuk kondisi di kamp-kamp pengungsi yang saat ini dipenuhi warga yang mengungsi secara paksa.
Hiba Morgan dari Al Jazeera melaporkan bahwa kamp di al-Dabbah semakin sesak dengan kedatangan pengungsi baru setiap hari. "Orang-orang membutuhkan makanan, air bersih, dan tempat tinggal, banyak dari mereka tidur di luar tanpa perlindungan," jelasnya.
Sebagian pengungsi ada yang sudah berada di kamp tersebut selama berhari-hari, dan terus bertambahnya ancaman dari RSF memicu lonjakan jumlah pengungsi yang berusaha melarikan diri.
Respons Internasional dan Harapan untuk Gencatan Senjata
Respons internasional terhadap kekerasan yang meningkat ini terus meluas, dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menyerukan peningkatan bantuan kemanusiaan. Departemen Luar Negeri AS menegaskan, "Tidak ada solusi militer yang viable."
Senator Jim Risch dari Idaho bahkan meminta Badan AS untuk menetapkan RSF sebagai "organisasi teroris asing", yang menunjukkan ketidakpuasan mendalam terhadap tindakan RSF selama konflik berlangsung.
Pernyataan tersebut menarik perhatian komunitas internasional, khususnya dalam mendorong kedua pihak untuk mencari jalan damai lewat diplomasi, agar tragedi kemanusiaan serupa tidak terulang.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: