Polisi di Rio de Janeiro, Brasil, baru saja melaksanakan penggerebekan besar-besaran yang berujung pada tewasnya 119 orang, termasuk 115 tersangka kriminal dan empat petugas polisi.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Operasi ini bertujuan untuk menanggulangi kejahatan terorganisir dalam konteks menjelang KTT perundingan iklim PBB di Amazon.
Konteks Operasi Penggerebekan
Penggerebekan ini dilaksanakan dari hari Selasa hingga Rabu terhadap geng Comando Vermelho, yang dikenal sebagai penyebar narkoba dan memiliki kekuatan besar di Rio de Janeiro.
Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menekankan pentingnya tindakan melawan kejahatan terorganisir, menyatakan, "Kita tidak dapat menerima bahwa kejahatan terorganisir terus menghancurkan keluarga, menindas penduduk, dan menyebarkan narkoba serta kekerasan di seluruh kota."
Lula juga menekankan perlunya kerja sama terkoordinasi untuk menyentuh akar masalah ini, "Kita membutuhkan kerja sama terkoordinasi yang menyentuh akar perdagangan narkoba tanpa membahayakan petugas polisi, anak-anak, dan keluarga yang tidak bersalah."
Baca juga: Kunto Aji Menyuarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Harapan Masyarakat
Detail Operasi dan Pertukaran Tembakan
Lebih dari ratusan polisi terlibat, menggunakan helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone untuk mendukung operasi ini, yang telah direncanakan matang selama lebih dari setahun.
Selama penggerebekan, terjadi baku tembak yang menyebabkan kepanikan di kalangan warga, dengan laporan bahwa Comando Vermelho menggunakan bus-bus yang disita untuk memblokade jalan.
Kepala polisi menyatakan operasi ini sebagai "keberhasilan," mengklaim satu-satunya korban di pihak petugas polisi, serta menangkap 113 orang dan menyita 91 senapan.
Reaksi Masyarakat dan PBB
Setelah operasi, warga menemukan sejumlah mayat di hutan pinggir kota, beberapa di antaranya mengalami kekerasan ekstrem. Raquel Tomas, seorang ibu, meluapkan kesedihannya: "Mereka menggorok leher anak saya, menggorok lehernya, dan menggantung kepalanya di pohon seperti piala."
Pengacara Albino Pereira Neto, yang mewakili keluarga korban, menyoroti bahwa banyak jenazah menunjukkan bekas luka bakar dan tanda penyiksaan lainnya. Ia mengungkapkan, "Selama operasi, polisi seharusnya menjalankan tugasnya, menangkap tersangka, tetapi tidak mengeksekusi mereka."
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinan akan tingginya jumlah korban, sementara PBB menyerukan investigasi cepat. Hakim Agung Alexandre de Moraes memanggil kepala polisi untuk menjelaskan tindakan mereka.
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: