Ruang digital saat ini tengah digegerkan oleh dugaan kebocoran data yang melibatkan 183 juta akun dan password Gmail, menggugah perhatian banyak pihak terkait keamanan dunia maya.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Pakar dari Tenable menegaskan bahwa kebocoran ini bukanlah hasil dari Google, melainkan berasal dari data lama yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet.
Asal Usul Kebocoran Data
Kebocoran data ini terdeteksi oleh situs Have I Been Pwned yang mengkhususkan diri dalam memantau keamanan password. Meskipun insiden ini terjadi pada bulan April, pengumuman resmi mengenai kebocoran tersebut baru muncul beberapa waktu lalu.
Troy Hunt, pengelola situs tersebut, menjelaskan bahwa data yang bocor merupakan hasil pengumpulan dari berbagai serangan siber sebelumnya. Ia menyatakan, 'data tersebut berasal dari serangan siber yang jauh lebih luas yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet,' mengindikasikan kompleksitas kebocoran ini.
Kondisi ini menegaskan pentingnya pengguna untuk tetap waspada terhadap keamanan akun mereka dan tidak menganggap remeh potensi ancaman.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Klarifikasi dari Tenable
Satnam Narang, ahli dari Tenable, menyatakan bahwa informasi tentang pencurian 183 juta akun Gmail adalah komunikasi yang menyesatkan. Ia menegaskan, 'Google sendiri tidak terkena dampak kebocoran data tersebut.'
Menurutnya, sumber data ini merupakan gabungan dari hasil pencurian data dalam berbagai kasus keamanan siber sebelumnya. Narang menambahkan, 'sebaliknya, para peneliti mengumpulkan data ancaman dari berbagai sumber, yang mencakup 183 juta kredensial unik yang terkait dengan berbagai situs web, termasuk Gmail.'
Lebih jauh lagi, survei menunjukkan bahwa sekitar 91 persen data dalam kebocoran tersebut sudah pernah dilihat sebelumnya, menyoroti pemahaman yang perlu dimiliki pengguna mengenai seberapa banyak data yang baru.
Tindakan Pengamanan yang Disarankan
Menyusul temuan ini, para pengguna diimbau untuk mengambil langkah-langkah pengamanan yang lebih proaktif. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah penggunaan ulang password, yang sangat berisiko bagi pengguna.
Menggunakan sistem pengelola password dan menerapkan otentikasi multi-faktor adalah beberapa langkah yang dianjurkan. Narang mengingatkan bahwa, 'Salah satu tantangan paling umum terkait kredensial akun yang dicuri adalah penggunaan ulang kata sandi.'
Layanan otentikasi multi-faktor, seperti kode sandi sekali pakai melalui SMS dan alat keamanan seperti Yubikey, dapat sangat meningkatkan keamanan akun pengguna dari potensi serangan di masa depan.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: