Kementerian Keuangan Indonesia tengah berupaya memperkuat keamanan siber sistem Coretax dengan menggandeng hacker berpengalaman dari dalam negeri. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa infrastruktur digital mampu menghadapi ancaman serangan siber yang semakin kompleks.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa para hacker ini diundang khusus untuk menguji kekuatan sistem guna mencapai tingkat keamanan yang lebih tinggi.
Rekrutmen Hacker untuk Pengujian Sistem
Menteri Purbaya menjelaskan bahwa hacker-hacker Tanah Air yang diakui secara internasional diundang untuk menguji Coretax. "Kita juga sudah panggil hacker kita, yang jago-jago orang Indonesia ya, bukan orang asing," ucapnya dalam sebuah media briefing.
Ia menegaskan bahwa tidak hanya bergantung pada pihak luar yang berpengalaman, tetapi memanfaatkan keahlian lokal. "Anda jangan kira loh, orang Indonesia tuh hackernya jago-jago banget, di dunia juga ditakutin rupanya," tambahnya.
Purbaya mengingatkan bahwa meski Coretax telah dikembangkan oleh perusahaan asing selama empat tahun, pengawasan mutu yang kurang baik masih menimbulkan masalah krusial dalam sistem. "Pihak asing yang ditunjuk bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah kritis dari Coretax," ungkapnya.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Temuan Menarik Tim Pemeriksa
Saat tim Kementerian Keuangan melakukan pemeriksaan, hasil yang ditemui cukup mengecewakan. "Komentarnya lucu deh, begitu mereka dapet source codenya, dilihat sama orang saya. Dia bilang: wah ini programmer tingkat baru lulusan SMA," ceritanya.
Purbaya mencatat bahwa pengembangan oleh pihak luar tidak sesuai harapan dan sering kali mengabaikan kualitas. "Jadi ya memang Indonesia lah sering dikibulin asing," tegasnya.
Pengalaman ini menunjukkan betapa krusialnya pengawasan dan pemilihan pengembang yang tepat untuk proyek besar seperti Coretax agar dapat berjalan sesuai rencana.
Pengalaman Merekrut Hacker Berpengalaman
Purbaya juga berbagi cerita mengenai pengalaman rekrutmen hacker berbakat. Ia mencatat bahwa banyak hacker yang memiliki keterampilan tinggi tidak memiliki latar belakang pendidikan formal. "Kalau orang sekolah memang pasti nggak bisa jadi hacker. Karena pikirnya terstruktur," ujarnya.
Salah satu hacker andalannya bahkan telah dilatih di Rusia selama enam bulan di tempat tertutup. "Dia dilatih di Rusia 6 bulan kali. Khusus di tempat tertutup di sana," ungkapnya.
Purbaya meyakini kemampuan hacker tersebut berkat pengalaman kerja sama mereka sebelumnya, di mana grup hacker terkenal juga telah dikundang untuk menguji sistem. "Jadi mereka biasa dipakai ngehack untuk tes Google dan lain-lain besar-besar," tutupnya.
Baca juga: Alexander Isak Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: