Osteoarthritis atau radang sendi semakin menjadi perhatian di kalangan lansia di Indonesia. Gejala seperti nyeri sendi, kaku, dan pembengkakan membuat aktivitas sehari-hari menjadi menantang.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Dengan bertambahnya usia, risiko terkena osteoarthritis semakin tinggi. Memahami penyakit ini membantu lansia mengelola gejala dan menjaga kualitas hidup mereka.
Apa Itu Osteoarthritis?
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum, biasanya terjadi pada orang di atas 50 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan kartilago sendi, pelindung ujung tulang yang memfasilitasi pergerakan lancar.
Saat kartilago menipis, tulang saling bergesekan yang mengakibatkan rasa sakit. Gejala awalnya sering berupa nyeri saat bergerak dan kaku di sendi, terutama setelah beristirahat.
Meskipun osteoarthritis dapat mempengaruhi hampir semua sendi, kondisi ini paling sering terjadi di lutut, pinggul, punggung bawah, dan jari. Risiko dapat meningkat bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Gejala Osteoarthritis
Gejala osteoarthritis bervariasi tergantung pada tingkat keparahan. Mulai dari nyeri sendi saat beraktivitas sampai bengkak dan kaku setelah beristirahat.
Dalam beberapa kasus, suara ‘berderak’ dapat terdengar saat sendi bergerak, yang mengindikasikan gesekan antara tulang tanpa kartilago pelindung.
Gejala tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena dapat berkontribusi pada penurunan fungsi sendi yang lebih parah jika tidak ditangani dengan baik.
Pengelolaan Osteoarthritis
Pengelolaan osteoarthritis meliputi beberapa pendekatan, seperti perubahan gaya hidup dan terapi fisik. Olahraga ringan bisa membantu memperkuat otot di sekitar sendi dan meningkatkan fleksibilitas.
Konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat sangat dianjurkan, di mana obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) kadang-kadang direkomendasikan.
Diet juga penting, dengan mengonsumsi makanan anti-inflamasi yang kaya omega-3 dan serat dapat membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri. Menjaga berat badan ideal berkontribusi terhadap pengurangan tekanan pada sendi.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: