Mandi malam masih dianggap oleh banyak orang dapat menimbulkan masalah kesehatan, termasuk rematik. Hal ini membuat sebagian memilih untuk tidak mandi setelah matahari terbenam.
Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae Terkait Kematian Pengemudi Ojol
Namun, seberapa benar klaim tersebut? Mari kita telusuri lebih dalam untuk menemukan fakta di balik mitos ini.
Asal Usul Mitos
Mitos mandi malam yang bisa menyebabkan rematik telah ada dalam masyarakat sejak lama. Banyak orang tua percaya bahwa mandi malam meningkatkan risiko terkena penyakit sendi.
Kemungkinan asal muasal mitos ini terkait dengan kelembapan dan suhu dingin di malam hari yang dianggap berbahaya bagi tubuh. Penting untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana anggapan ini terbentuk dan diterima dalam masyarakat.
Di beberapa budaya, mandi malam dianggap bisa memperburuk kondisi kesehatan. Pemahaman ini sering kali menyesatkan, menyamakan mandi dengan munculnya berbagai penyakit, khususnya rematik.
Baca juga: Kasus Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana
Dampak Kesehatan dari Mandi Malam
Mandi malam, sebagai kegiatan menjaga kebersihan tubuh, tidak seharusnya dikaitkan dengan rematik. Penelitian menunjukkan bahwa rematik disebabkan oleh faktor-faktor seperti genetik, infeksi, dan gaya hidup, bukan oleh kebiasaan mandi.
Dokter dan ahli kesehatan menyebutkan bahwa mandi dengan air suam-suam kuku justru berpotensi membantu relaksasi otot dan mengurangi stres. Stres, dalam beberapa kasus, dapat memperburuk gejala rematik.
Yayasan Arthritis di berbagai negara mengonfirmasi bahwa kebersihan pribadi memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan sendi. Akses untuk mandi, termasuk mandi malam, sangat penting untuk mendukung gaya hidup sehat.
Penelitian tentang Mandi dan Rematik
Beberapa penelitian menunjukkan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa mandi malam menyebabkan rematik. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan mandi malam tidak berkaitan langsung dengan peningkatan kemungkinan terjadinya rematik.
Sebuah studi dari Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa perubahan cuaca dan peningkatan kelembapan dapat mempengaruhi nyeri sendi. Namun, ini lebih terkait dengan kondisi lingkungan ketimbang aktivitas mandi itu sendiri.
Faktor kesehatan sendi lebih terkait dengan latihan fisik teratur dan pola makan yang sehat. Oleh karena itu, lebih baik memfokuskan perhatian pada faktor-faktor tersebut daripada khawatir kapan sebaiknya mandi.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: