Patrick Kluivert Resmi Dipecat Sebagai Pelatih Timnas Indonesia Setelah Kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Patrick Kluivert resmi dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia oleh PSSI menyusul kegagalan Tim Garuda lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Setelah 10 bulan menjabat, Kluivert mengungkapkan rasa bangga akan pencapaiannya meski merasa kecewa atas hasil buruk selama kualifikasi.
Pemecatan Kluivert dan Penyebabnya
Pada 16 Oktober 2025, PSSI secara resmi berpisah dengan Patrick Kluivert sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia. Keputusan ini muncul setelah kegagalan tim dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana mereka terjerembab di posisi juru kunci Grup B.
Timnas Indonesia mengalami kekalahan melawan Arab Saudi dan Irak, yang semakin memicu kritik dari banyak pihak, terutama suporter. Banyak yang merasa kinerja Kluivert tidak memenuhi ekspektasi dan menyebabkan kekecewaan mendalam.
Laporan media beredar bahwa pemecatan ini merupakan tanggapan terhadap gelombang kritik publik. Pengamat sepak bola menilai PSSI berusaha menjaga kepercayaan suporter dengan mengambil langkah tegas.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR
Reaksi Kluivert Pasca Pemecatan
Setelah mendapatkan kabar pemecatannya, Kluivert menyatakan rasa kecewa dengan hasil yang diraih timnya. Dia mengakui bahwa mereka tidak berhasil mencapai target utama, yakni lolos ke Piala Dunia.
"Meskipun saya sangat kecewa dan menyesal karena kita tidak berhasil lolos ke Piala Dunia, saya akan selalu bangga dengan apa yang telah kita bangun bersama," tulisnya di Instagram.
Kluivert juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PSSI, pemain, dan suporter yang mendukungnya selama menjabat. Ia berharap agar perjalanan di Timnas Indonesia dapat dikenang dengan baik meski hasilnya tidak memuaskan.
Kekecewaan Suporter dan Tradisi Timnas
Kekalahan dari Irak memicu kekecewaan besar di kalangan suporter Garuda. Mereka merasa Kluivert melanggar tradisi, yakni tidak menghampiri suporter setelah pertandingan untuk memberi penghormatan.
Kluivert dan timnya memilih untuk tidak menyapa suporter, yang menimbulkan rasa sakit dan kekecewaan di hati pendukung setia. Situasi ini semakin sulit diterima karena tim tidak mampu mencapai target yang telah diharapkan.
Hingga saat ini, Kluivert belum meminta maaf secara resmi kepada publik. Kondisi ini membuat banyak pihak berharap akan adanya perubahan sikap untuk memperbaiki hubungan dengan para suporter yang merasa dikhianati.
Baca juga: Tips Membuat Kamar Kecil Menjadi Nyaman dan Menyenangkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: