Senin, 13 OKTOBER 2025 • 20:46 WIB

Pemutihan Karang: Tanda Kiamat di Bawah Laut Akibat Pemanasan Global

Author

Pemutihan Karang: Tanda Kiamat di Bawah Laut Akibat Pemanasan Global

Ilmuwan dari University of Exeter, Inggris, memperingatkan tentang tanda-tanda kiamat yang kini terlihat di bawah laut akibat lonjakan suhu global yang ekstrem.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat

Ekosistem terumbu karang kini berada di ambang kehancuran, menunjukkan bahwa Bumi telah mencapai titik balik iklim yang sangat kritis.

Pemutihan Karang dan Risiko Planet

Laporan dari tim peneliti menyatakan bahwa pemanasan global sudah menjadi kenyataan, bukan lagi ancaman di masa depan. Steve Smith, ilmuwan sosial dan penulis utama laporan tersebut, menggarisbawahi, 'Kita tidak bisa lagi membicarakan titik balik sebagai risiko masa depan. Ini adalah realitas baru kita.'

Tim peneliti memperingatkan bahwa kerusakan ekosistem terumbu karang menunjukkan bahwa salah satu titik balik telah terlewati. Laporan ini juga mengidentifikasi sekitar 20 titik balik planet yang sangat berisiko, termasuk kemungkinan runtuhnya lapisan es dan kematian massal hutan hujan Amazon.

Baca juga: Kunto Aji Bicarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Masyarakat

Dampak Pemutihan Karang Secara Global

Dalam dua tahun terakhir, suhu laut yang meningkat drastis telah menyebabkan fenomena pemutihan karang di seluruh dunia. Ketika terumbu karang kehilangan alga simbiotik yang memberi warna dan nutrisi, kondisi mereka menjadi sangat kritis.

Sejak Januari 2023, dunia mengalami pemutihan global keempat dalam beberapa dekade terakhir, dengan lebih dari 84% ekosistem terumbu karang di seluruh dunia terpengaruh. Michael Studivan, ahli ekologi karang dari University of Miami, menjelaskan, 'Kita sudah sampai di titik itu. Gangguan yang terjadi semakin parah dan sering, dan masa pemulihan di antaranya kini hampir tidak ada lagi.'

Tantangan Masa Depan dan Kebutuhan Perubahan Kebijakan

Para ilmuwan menegaskan bahwa bahkan jika suhu global berhasil distabilkan di 1,5°C di atas tingkat pra-industri seperti yang ditargetkan dalam Perjanjian Paris 2015, kerusakan pada terumbu karang akan tetap berlanjut. Untuk mempertahankan kehidupan terumbu karang, diperlukan pendinginan sampai sekitar 1°C di atas tingkat pra-industri.

Namun, pencapaian tujuan ini sangat sulit tanpa perubahan kebijakan yang mendasar. Manjana Milkoreit, ilmuwan politik dari University of Oslo, mencatat, 'Kita sudah memiliki pengetahuan dan teknologinya. Yang kita butuhkan sekarang adalah sistem pemerintahan global yang mampu menghadapi tantangan sebesar ini.'

Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU