Kamis, 09 OKTOBER 2025 • 20:32 WIB

Peluang Etanol sebagai Bahan Bakar Ramah Lingkungan di Indonesia

Author

Peluang Etanol sebagai Bahan Bakar Ramah Lingkungan di Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membela etanol sebagai bahan bakar alternatif meskipun ada anggapan negatif terhadapnya. Pernyataan ini disampaikan dalam Investor Daily Summit 2025 di Jakarta pada 9 Oktober 2025.

Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025

Bahlil menegaskan bahwa penerapan etanol dalam campuran BBM bukan hanya telah terbukti efektif di berbagai negara, tetapi juga menawarkan keuntungan untuk perekonomian Indonesia.

Penjelasan Menteri ESDM Mengenai Etanol

Bahlil menentang pandangan skeptis mengenai etanol dengan menegaskan, 'Sangatlah tidak benar kalau dibilang etanol itu nggak bagus. Buktinya di negara-negara lain sudah pakai barang ini.' Meskipun ada penolakan dari SPBU swasta untuk membeli bahan bakar dari Pertamina, optimismenya terhadap potensi etanol tetap tinggi.

Penerapan etanol dalam bahan bakar telah berhasil dilakukan di berbagai negara seperti Brasil, Amerika Serikat, India, Thailand, dan Argentina, di mana masing-masing menggunakan etanol dengan persentase berbeda. 'Buktinya di Brasil, campuran etanol dalam BBM mencapai 27%, dan beberapa provinsi bahkan telah mencapai E100,' jelasnya.

Di Amerika Serikat, regulasi mengharuskan penggunaan E10, sedangkan beberapa negara bagian lainnya telah menggunakan E85. India dan Thailand juga mengaplikasikan campuran etanol dengan persentase yang signifikan, seperti E20.

Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024

Keuntungan Penggunaan Etanol dalam BBM

Bahlil memaparkan sejumlah keuntungan dari penggunaan etanol dalam campuran BBM, mulai dari pemanfaatan sumber daya alam hingga pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar impor. Ia menekankan, 'Yang kedua adalah untuk melahirkan energi yang bersih dan ini bukan hanya di kajian Indonesia, di dunia barang ini.'

Pemerintah Indonesia berencana untuk mengembangkan BBM yang ramah lingkungan dengan campuran etanol sebesar 10%. Rencana ini diharapkan dapat mengurangi impor dan menciptakan peluang lapangan kerja di bidang pertanian dan energi.

Etanol, yang berasal dari bahan baku seperti singkong dan tebu, dianggap mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. 'Etanol ini didapatkan dari singkong atau dari tebu, dan ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi daerah, dan sekaligus pemerintahan,' tegas Bahlil.

Dampak Positif bagi Ekonomi dan Energi Nasional

Dengan adanya pengembangan bahan bakar yang mengandung etanol, pemerintah berharap bisa tidak hanya mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Proyek ini menargetkan pemanfaatan tanaman terjangkau, sehingga secara ekonomi menjadi lebih menarik.

Bahlil juga menekankan, 'Inilah kira-kira konsep besar bagaimana cara kita untuk memperkuat sumber energi kita dari fosil, khususnya solar dan bensin.' Proyek ini diharapkan menjadi langkah awal transisi menuju energi yang lebih bersih.

Penerapan etanol tidak hanya menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga diharapkan dapat berdampak positif pada sektor ekonomi dengan menciptakan peluang kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah penghasil.

Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU