Kamis, 09 OKTOBER 2025 • 12:42 WIB

Krisis Politik Prancis: Macron Terpukul oleh Desakan untuk Stabilitas

Author

Krisis Politik Prancis: Macron Terpukul oleh Desakan untuk Stabilitas

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sedang menghadapi tekanan besar untuk mencari solusi dari kebuntuan politik yang melanda negaranya. Bahkan, beberapa sekutu politiknya mendesaknya untuk mundur demi stabilitas nasional.

Baca juga: Polisi Tangkap ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta

Krisis ini semakin mendalam setelah pengunduran diri mendadak Perdana Menteri Sebastien Lecornu, yang menandai sebuah periode ketidakpastian bagi pemerintahan yang telah berkuasa sejak tahun 2017.

Situasi Terkini setelah Pengunduran Diri PM

Krisis politik di Prancis memasuki fase baru setelah pengunduran diri Sebastien Lecornu pada 6 Oktober 2025. Macron menerima keputusan tersebut, tetapi memberikan waktu hingga 8 Oktober malam untuk merumuskan solusi bagi pemerintahan koalisi.

Upaya untuk mencapai kompromi tersebut masih jauh dari kepastian, sehingga secara otomatis memunculkan opsi untuk membubarkan parlemen dan menggelar pemilu legislatif mendadak. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan susunan legislatif yang lebih efektif dan stabil.

Seorang ajudan Macron yang tidak mau disebutkan namanya menyebutkan bahwa presiden telah melakukan pembicaraan dengan ketua majelis tinggi dan rendah parlemen pada malam 7 Oktober. Dialog ini menjadi kunci jika pemilu baru direncanakan, meski rincian pertemuan tersebut tidak dipublikasikan.

Baca juga: Alexander Isak Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas

Desakan untuk Pilpres Dipercepat

Tiga Perdana Menteri telah berganti dalam kurun waktu satu tahun, yang menimbulkan kegusaran di kalangan tim Macron. Aurore Berge, juru bicara kepresidenan, mengungkapkan bahwa Macron akan tetap menjabat 'hingga menit terakhir masa jabatannya' pada tahun 2027.

Sementara itu, mantan PM Edouard Philippe menegaskan bahwa waktu untuk pilpres perlu disegerakan setelah pengesahan anggaran. 'Saatnya untuk merencanakan pemilihan presiden secara cepat,' ujarnya, menyiratkan bahwa ini adalah pernyataan yang berdampak besar dalam konteks politik saat ini.

Philippe juga mengkritik permainan politik yang mengarah pada ketidakstabilan dan berharap bahwa Macron bisa membawa Prancis keluar dari krisis ini dengan 'cara yang terkendali dan bermartabat.'

Persaingan Politik Memanas di Depan Pilpres 2027

Persaingan politik di Prancis semakin memanas menjelang pilpres 2027, dimana Macron dilarang mencalonkan diri. Philippe, salah satu kandidat potensial, dinilai memiliki peluang kuat untuk merebut kekuasaan dari sayap kanan ekstrem di bawah Marine Le Pen.

Situasi ini berakar dari keputusan Macron untuk menggelar pemilu legislatif mendadak pada musim panas 2024, yang malah menyebabkan parlemen terpecah menjadi tiga blok bersaing. Ketidakpastian ini terus mengganggu pemerintahan Macron dalam mencari stabilitas.

Dalam konteks ini, salah satu alternatif adalah menunjuk Perdana Menteri baru sebagai kepala pemerintahan kedelapan era Macron. Keputusan ini akan menjadikan arah politik Prancis di masa depan tergantung pada efektivitas pemerintah untuk menghadapi tantangan yang ada.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU