Elon Musk baru-baru ini menarik perhatian publik dengan seruan boikot terhadap Netflix. Ia menilai platform streaming tersebut mempromosikan agenda LGBT melalui tayangan animasi untuk anak-anak.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR
Aksi ini dipicu oleh serial animasi 'Dead End: Paranormal Park' yang menampilkan karakter remaja transgender, Barney. Kontroversi ini berpotensi mengguncang langganan dan saham Netflix.
Kontroversi Boikot Netflix
Kampanye boikot ini bermula dari tayangan 'Dead End: Paranormal Park', yang ditujukan untuk anak-anak berusia 7 tahun ke atas. Musk berpendapat bahwa karakter dalam serial ini dapat berisiko bagi perkembangan anak.
Sutradara 'Dead End', Hamish Steele, menjadi sorotan ketika Musk mengklaim bahwa ia mengejek kematian aktivis konservatif Charlie Kirk. Musk kemudian menggugah pengikutnya di X untuk membatalkan langganan Netflix.
Respons dari publik pun cukup mengejutkan, banyak pengguna yang melaporkan penghentian langganan mereka di media sosial. Hal ini menyebabkan saham Netflix mengalami penurunan 2% pada 1 Oktober 2025.
Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Reed Hastings: Pendiri Netflix
Reed Hastings, pendiri Netflix, lahir pada 8 Oktober 1960, dikenal sebagai sosok yang membawa inovasi di bidang hiburan. Sebelum mendirikan Netflix, Hastings memiliki latar belakang di dunia pendidikan dan teknologi.
Ide untuk mendirikan Netflix muncul setelah sebuah pengalaman mendebarkan ketika ia didenda US$ 40 karena keterlambatan mengembalikan film ke Blockbuster. Dari pengalaman tersebut, bersama Marc Randolph, Netflix diluncurkan sebagai layanan rental DVD lewat pos pada tahun 1997.
Transformasi Netflix menjadi layanan streaming pada tahun 2007 membawa perubahan besar dalam cara orang mengakses hiburan, menjadikannya pemimpin dengan lebih dari 100 juta pelanggan di seluruh dunia.
Pengaruh Kontroversi Terhadap Netflix
Seruan boikot oleh Musk bukanlah yang pertama kali, sebelumnya ia juga sering mengkritik konten Netflix. Dengan lebih dari 226 juta pengikut di X, dampak dari wabah ini bisa mempengaruhi basis pelanggan Netflix secara signifikan.
Data awal menunjukkan penurunan jumlah pelanggan di Amerika Serikat akibat efek dari kampanye ini. Terlepas dari itu, Netflix masih berhasil mempertahankan posisi sebagai pelopor dalam layanan streaming.
Kontroversi ini menyoroti hubungan kompleks antara dunia hiburan, politik, dan representasi dalam era digital. Meskipun banyak kritik terhadap konten yang berkaitan dengan LGBTQ+, Reed Hastings terus diakui dalam industri hiburan atas inovasinya.
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: