Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 22:05 WIB

Presiden Madagaskar Bubarkan Pemerintahan Setelah Protes Gen Z

Author

Presiden Madagaskar Bubarkan Pemerintahan Setelah Protes Gen Z

Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, memutuskan untuk membubarkan pemerintahannya setelah serangkaian protes besar-besaran dari generasi muda yang dikenal sebagai Gen Z.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Keputusan ini diambil menyusul pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan yang telah memicu kemarahan di kalangan masyarakat.

Pemicu Pembubaran Pemerintahan

Protes yang dipicu oleh pemadaman listrik dan keterbatasan air telah menyatukan ribuan demonstran dari berbagai wilayah Madagaskar.

Generasi muda Madagaskar mengungkapkan ketidakpuasannya dengan cara yang jelas, mengingat sekitar 75 persen dari 30 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Data dari World Bank menunjukkan bahwa akses terhadap listrik sangat terbatas, hanya 36 persen penduduk yang mendapat supply yang andal.

Presiden Rajoelina mengakui ketidakpuasan masyarakat dan mengatakan, "Kami mengakui dan meminta maaf jika pemerintah belum melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik."

Kekacauan yang Mengikuti Protes

Protes yang dimulai oleh Gen Z berkembang menjadi kerusuhan, mengakibatkan sedikitnya 22 orang tewas berdasarkan laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia

Aksi penjarahan terjadi di supermarket, toko kecil, dan bank, bahkan rumah-rumah politisi juga tidak luput dari kerusuhan ini.

Sebagai respon, pihak berwenang menerapkan jam malam dan menerjunkan pasukan keamanan untuk meredakan situasi yang kian memburuk.

Rajoelina juga segera memecat Menteri Energi pada tanggal 26 September lalu untuk merespons gelombang protes ini.

Simbol Unjuk Rasa Gen Z

Dalam aksi protesnya, para demonstran mengibarkan bendera anime Jepang, One Piece, sebagai simbol ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah.

Bendera ini menjadi lambang persatuan Gen Z di berbagai negara ketika mereka menggelar aksi protes serupa, termasuk di negara-negara seperti Indonesia dan Prancis.

Rajoelina menyatakan, "Saya mendengar panggilan ini, saya merasakan penderitaan ini," menunjukkan kesadarannya terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.

Demonstrasi ini memperlihatkan potensi generasi muda dalam membawa perubahan sosial dan kebijakan, tidak hanya di Madagaskar tetapi juga secara global.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU