Flotila Sumud Global (GSF) yang dalam misi kemanusiaan untuk Gaza diprediksi akan memasuki zona risiko tinggi dalam dua hari ke depan. Armada ini, yang membawa bantuan vital, menghadapi ancaman pencegatan oleh Israel di tengah perjalanan berbahaya.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Armada GSF telah mengonfirmasi bahwa mereka akan mencapai wilayah kantong yang terkepung dalam waktu sekitar empat hari. Meskipun mengalami kendala, penyelenggara menyatakan bahwa misi tetap berjalan sesuai jadwal.
Misi Armada Sumud Global Menuju Gaza
Armada GSF telah mengonfirmasi bahwa misi ini bertujuan untuk menembus blokade ilegal Israel di Gaza dan diharapkan tiba dalam waktu sekitar empat hari. Jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 370 mil laut, dan mereka memasuki zona oranye, di mana kemungkinan besar mereka akan dicegat oleh Israel.
Sebelumnya, salah satu kapal armada, 'Johnny M', mengalami kebocoran. Namun, semua peserta berhasil dipindahkan dengan selamat ke kapal lain, menurut pernyataan pihak penyelenggara.
Penyelenggara BPN menegaskan bahwa meskipun ada jeda ini, tidak akan ada penundaan signifikan bagi misi, dan mereka tetap berkomitmen untuk tiba dalam waktu yang telah ditentukan.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa
Ancaman dari Israel
Laporan dari Al Jazeera Arabic menyebut bahwa Israel bersiap untuk mencegat dan menyita kapal-kapal dalam armada ini. Hal ini mengikuti intervensi sebelumnya terhadap armada serupa, seperti kapal 'Madeleine' dan 'Handala', yang keduanya telah dicegat oleh Israel.
Dalam konteks ini, kapal-kapal yang terlibat dalam misi ini membawa berbagai jenis bantuan kemanusiaan. Para relawan yang terlibat termasuk dokter, pengacara, dan anggota parlemen yang berupaya menembus pengepungan yang ada.
Kementerian Luar Negeri Israel menuduh agar misi ini dianggap sebagai armada Hamas dan meminta dukungan agar misi ini tidak memasuki zona pertempuran aktif.
Reaksi Global dan Tindakan Aktivis
Setelah serangan pesawat tanpa awak yang menimpa armada sebelumnya, aktivis dari misi GSF mendesak komunitas internasional untuk bertindak dan menuntut Israel menghentikan serangan terhadap mereka. Aktivis percaya bahwa perlindungan terhadap misi kemanusiaan sangat penting.
Mandla Mandela, cucu dari Nelson Mandela, menyatakan bahwa respons Israel sebelumnya adalah pelecehan yang tidak bisa diterima. Dia mengatakan, 'Tindakan-tindakan ini merupakan tindakan putus asa, tidak berbeda dengan apa yang kita saksikan selama dekade terakhir apartheid Afrika Selatan.'
Misi GSF menegaskan komitmennya untuk tidak mundur hingga genosida ini berhenti dan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan tanpa batas. Pada saat yang sama, situasi di Gaza semakin mengkhawatirkan, dengan laporan pemboman oleh Israel yang telah menyebabkan ribuan kematian dan pengungsi sejak 18 Maret.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: