Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa isu sabotase terkait keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah klaim yang tidak berdasar.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Dadan menjelaskan bahwa kelalaian dalam mengikuti prosedur operasional standar merupakan penyebab utama di balik kasus keracunan ini.
Penjelasan Dadan Hindayana
Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus keracunan dari program MBG berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru beroperasi.
Menurut Dadan, 'Data menunjukkan bahwa kasus banyak dialami oleh SPPG yang baru beroperasi, karena SDM masih membutuhkan jam terbang.' Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pelatihan yang memadai bagi tenaga kerja di dapur tersebut.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Jumlah Kasus Keracunan
Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat setidaknya 5.626 siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG di berbagai daerah antara Januari hingga September 2025.
Kasus terbaru terjadi di Bandung Barat, di mana sekitar 1.258 siswa mengalami keracunan dengan gejala utama berupa pusing dan mual.
Langkah Tanggap Darurat
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, telah mengumumkan bahwa status kejadian luar biasa (KLB) ditetapkan terkait insiden ini, dan 85 dapur MBG di Cipongkor ditutup karena belum memiliki sertifikat kelayakan.
Dadan juga menekankan bahwa kualitas bahan baku dan kondisi air yang digunakan dalam proses memasak dapat menjadi faktor lain yang memicu keracunan.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru, Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: